Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Keridhoan Allah

Posted by masjidbaitulmamur pada 27 Maret 2010

Pergi Dalam Jalan Keridhoan Allah,
Lebih Berharga Dari Pada Dunia & Seisinya

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: غَدْوَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ قَدَمٍ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى اْلَأرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيْحًا وَلَنَصِيفُهَا يَعْنِي الْخِمَارَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

( صحيح البخاري )

” Pergi pada waktu pagi atau pada waktu sore di jalan keridhoan Allah itu lebih berharga daripada dunia dan seisinya, Dan busur kalian atau tempat kakinya di syurga itu lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Dan seandainya seorang wanita penduduk syurga muncul ke dunia pasti ia akan menerangi apa yang ada di antara langit dan Bumi dan pasti aroma wanginya akan memenuhi apa yang ada di antara keduanya (langit dan bumi). Dan kerudungnya itu sungguh lebih berharga daripada dunia dan seisinya”. ( Shahih Al Bukhari )

Rahasia keluhuran yang ditumpahruahkan oleh Allah sepanjang kehidupan kita ditawarkan bagi yang menghendakinya hingga setiap nafasnya menjadi berlian-berlian yang membawa keluhuran di masa mendatang dan di hari esoknya dalam kehidupan dunia, barzakh dan akhirah, itulah makna kebangkitan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebgaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

( الأنبياء : 107 )

” Tiadalah kami mengutusmu ( Muhammad ) melainkan ( untuk ) menjadi rahmat bagi semesta alam ” ( QS. Al Anbiyaa: 107)

Semua tuntunan beliau, semua bimbingan beliau, semua ucapan beliau adalah mutiara-mutiara kebahagiaan dunia dan akhirah. Semoga Allah senantiasa menerangiku dan kalian dengan cahaya keluhuran dunia dan akhirah, cahaya kebahagiaan dunia dan akhirah, wahai Yang Maha memiliki kebahagiaan dunia dan akhirah. Allah subhanahu wata’ala memerintahkan sedemikian banyak perintah, dan melarang sedemikian banyak larangan, namun walaupun Allah subhanahu wata’ala mempunyai sifat murka dan benci terhadap perbuatan dosa akan tetapi Allah juga mempunyai sifat kasih sayang, yang masih menyayangi dan memperhatikan para pendosa agar dilimpahi pengampunan, sebagaimana firman-Nya:

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

( الشورى : 5 )

” Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya, dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. ( QS. As Syuuraa: 5 )

Tasbih malaikat yang memuji Allah dan memohonkan pengampunan bagi penduduk bumi hampir memecahkan langit dari dahsyatnya tasbih dan permohonan malaikat untuk pengampunan penduduk bumi. Siapa yang memerintahkan malaikat untuk berbuat demikian? Dialah Allah..!

Mengapa Allah mengabarkannya kepada kita?, Allah ingin memberi pemahaman kepada kita, ” inilah kelembutan-Ku dan kasih sayang-Ku untuk penduduk bumi yang banyak berbuat dosa “, bahkan di langit pun para malaikat bergemuruh memohon pengampunan atas dosa mereka. Inilah kasih sayang Allah untuk para pendosa, maka bagaimana dengan mereka yang mencintai Allah?!.

Bagaimana gemuruh malaikat mendoakan mereka?
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

( فصلت: 30 )

” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. ( QS. Fusshilat: 30 )

Mereka yang mengatakan :”sungguh Tuhan kami adalah Allah, lalu beristiqamah “, apa itu istiqamah? Yaitu berusaha semampunya untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah dan berusaha semampunya untuk melakukan hal-hal yang diperintah oleh Allah. Usaha untuk mencapai istiqamah adalah istiqamah dan mendapatkan pahala istiqamah. Usaha seseorang untuk mencapai istiqamah maka ia sudah mendapatkan pahala kemuliannya, karena niat seseorang telah mendapatkan pahalanya, dan jika ia melakukannya maka pahalanya dilipatgandakan 10 hingga 700 kali. Maka berniatlah kita semua untuk menjadi ahlul istiqamah yaitu seorang yang selalu menjauh dari hal-hal yang dilarang Allah dan selalu berbuat hal yang disukai oleh Allah, yang dengan itu terbuka rahasia kelembutan Ilahi yang lebih berlimpah, menyingkirkan segala kesulitan dan musibah dan membuat kita seakan-akan di sorga sebelum sampai ke sorga, karena Allah memanjakan kita dengan kemuliaan dan kedamaian di dunia ini, demikian keadaan orang-orang yang dicintai Allah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى، إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى، صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

( الأعلى: 14-19 )

” Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia berdzikir mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat, tetapi (diantara) kalian memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal, sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa “. ( QS. Al A’laa: 14-19 )

Sungguh beruntung mereka yang mau mensucikan dirinya, mau berusaha untuk naik kepada tangga-tangga keluhuran, dari kegelapan menuju cahaya terang benderang, dari dosa menuju taubat, dari kesalahan menuju istighfar, dari kehinaan menuju keluhuran, dari keluhuran menuju ke yang lebih luhur. Tangga-tangga keluhuran yang tersedia pada kita adalah setiap nafas kita terbuka kesempatan,Sang Maha Melihat menunggu taubat dan istighfar kita, menunggu ibadah kita dan siap melimpahkan kemuliaan dan anugerah bagi kita, Ya Allah.

Firman Allah : ” Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya dan banyak berdzikir menyebut nama Allah dan melakukan shalat”.Allah Maha Tau bahwa kita tidak mungkin selama 24 jam selalu berdzikir, namun setidak-tidaknya hari-hari kita lebih banyak berdzikir, hari ini banyak berdzikir hari esoknya lebih banyak lagi berdzikir walaupun hanya bertambah satu kali lebih banyak menyebut nama Allah dalam setiap harinya, maka ia telah semkain dekat setiap harinya kepada Allah. Namun sebagian dari manusia justru memilih keduniawian daripada keukhrawian, meninggalkan Allah dan akhirah menuju kepada hal yang fana dan meninggalkan untuk menyembah Allah, tidak lagi beribadah kepada Allah, tidak lagi mempedulikan Sang penciptanya, bahkan lebih memilih pada kehidupan dunianya saja, padahal kehidupan akhirah sungguh lebih baik dan abadi.

Tentunya bukan berarti kita dilarang untuk mencari kekayaan dunia, harta dan apa-apa yang ada dalam kehidupan kita. Akan tetapi sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membawa kebahagiaan dunia dan akhirah dari Allah subhanahu wata’ala, mengajarkan kepada kita bagaimana indahnya untuk mencapai keluhuran di dunia dan akhirah, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Barangsiapa yang bekerja dan ia niatkan untuk menafkahi anak-anak yatim dan para fakir miskin, maka seakan-akan ia adalah orang yang berjihad di siang harinya, dan shalat malam sepanjang malamnya, atau seperti orang yang berpuasa di siang harinya dan shalat malam sepanjang malamnya”, (Shahih Bukhari). hal itu untuk orang-orang yang mempunyai niat untuk membantu para fuqara’ dan dhu’afaa dan anak-anak yatim piatu, demikian mulianya walaupun mereka bekerja di perkantoran atau di toko, sebagai karyawan atau apapun, yang mana dalam pekerjaannya yang tampak adalah ghaflah (kelalaian) dan keduniawian, namun bisa saja mereka itu dihadapan Allah adalah orang yang siang harinya sebagai ahlul jihad (para Mujahidin) dan di malam harinya adalah orang yang senantiasa melakukan qiyamul lail, karena ia mau mempedulikan fuqara’ dan dhu’afaa. Betapa indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Tiadalah tersisa kehidupan terkecuali selalu tersimpan padanya keluhuran.

Firman Allah:” Akhirah lebih baik dan lebih abadi”, kehidupan di dunia ini hanya beberapa puluh tahun saja. Nabi Nuh alaihissalam dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir bahwa beliau berdakwah selama 950 tahun, bukan usianya. Adapun usianya, para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini ada yang mengatakan usianya 2000 tahun, ada yang mengatakan 1500 tahun, demikian dalam tafsir Al Imam Qurthubi dan lainnya. Namun, jika kita renungkan bagaimana lamanya usia 1500 tahun itu, bagaimana ia melewati hari-hari yang penuh dengan apa-apa yang harus ia lewati dari kenikmatan ataupun musibah, maka bagaimana dengan kita yang hanya 60 atau 70 tahun atau lebih, dan sedikit sekali yang mencapai hingga 100 tahun. Sungguh sangat singkat kehidupan ini dan setelah itu sirna dan kemudian menghadap Allah, setelah itu ada kehidupan yang kekal. Kalau seandainya kematian kita hanya menjadi tanah saja maka selesailah urusan kita, tetapi tidak demikian, kita akan hidup abadi bukan seperti hewan dan tumbuhan yang akan sirna dan fana, kita akan hidup triliunan tahun kelak, entah dalam kehinaan atau dalam keluhuran. Maka beruntung para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ، إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ، فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ، عَنِ الْمُجْرِمِينَ، مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ، وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ، حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ، فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ، فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ

( المدثر: 38-47 )

” Tiap-tiap tergadaikan atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surge dan mereka saling bertanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, ” Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? “, Mereka menjawab:” Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat, maka mengapa mereka berpaling dari peringatan (Allah)?”. ( QS. Al Muddatssir: 38-47 )

Semua manusia di hari itu tergadaikan oleh dosa-dosanya, habis sudah seluruh kenikmatan dan tidak mampu mereka bayar ditambah dosa yang bertumpuk, jiwanya tergadaikan oleh perbuatan-perbuatannya, barangkali perbuatan taatnya lupa untuk disyukuri dan perbuatan dosanya lupa untuk diistighfari, hal itu membuat mereka tergadaikan dan harus menebus dosa-dosa dan kesalahannya, kecuali kelompok-kelompok yang mulia, mereka aman jiwanya tidak tergadaikan, lehernya tidak terbelenggu dengan amal-amal dosanya, mereka didalam ketenangan yang abadi di dalam sorga, mereka tidak pernah terkena sakit, atau cobaan, cacian dan masalah-masalah yang lainnya, tidak ada lagi sedih, tidak ada lagi susah, tidak ada lagi masalah apapun.

Dan ketika itu mereka bertanya kepada penduduk neraka, seraya berkata: ” wahai penduduk neraka mengapa kalian sampai ke neraka ini, apa salah kalian?” , penduduk neraka itu menjawab: ” dulu ketika kami di dunia, kami tidak mau melakukan shalat, tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami selalu berkumpul dengan kelompok yang selalu berbuat dosa siang dan malam hingga kami wafat”. Maka Allah berfirman: ” tiadalah berguna lagi syafaatnya para pemberi syafaat “, karena mereka wafat dalam keadaan yang meninggalkan Allah, mereka mencerai Allah, mereka mentalak tiga Allah untuk tidak mau lagi kembali kepada Allah sepanjang hidupnya sampai ia wafat. Mengapa mereka berpaling dari peringatan? padahal ada gempa bumi, ada banjir, ada musibah, ada kenikmatan, ada kegembiraan, ada kemudahan, ada kesusahan, ada siang dan malam, ada tumbuh-tumbuhan, ada hewan yang kesemuanya adalah lambang keberadaan Allah subhanahu wata’ala dan hakikatnya adalah sebagai peringatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ العالمين

( التكوير: 29 )

” Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Tuhan semesta alam”.( QS. At Takwir: 29 )

Jadi, jika seseorang berniat berbuat baik, maka Allah yang akan membantunya untuk berbuat baik. Allah subhanahu wata’ala membantunya berbuat kemuliaan, Allah subhanahu wata’ala membantunya sampai ke majelis dzikir, Allah subhanahu wata’ala yang membantunya untuk sampai kedalam pengampunan.

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

وَمَا يَذْكُرُوْنَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

( المدثر: 56 )

” Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun “. ( QS. Al Muddatssir: 56 )

Dialah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha memiliki ketakwaan dan Dialah Yang Maha Memberinya, dan Yang Maha memiliki pengampunan dan Maha memberinya, maka mohonlah ketakwaan dan pengampunan kepada Allah karena pemiliknya hanya Allah, karena pemilik dunia dan akhirah adalah Allah, kebahagiaan dunia dan akhirah milik-Nya, jasad kita milik-Nya, kita tidak menciptanya sendiri tidak juga membeli jasad kita.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

غَدْوَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ قَدَمٍ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى اْلَأرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيْحًا وَلَنَصِيفُهَا يَعْنِي الْخِمَارَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

( رواه البخاري )

Keluarnya seseorang di pagi hari atau sore hari ke jalan yang diridhai Allah itu lebih berharga dari dunia dan segala isinya, maksudnya apa?, yaitu layaknya seseorang yang keluar di pagi hari atau sore hari atau kapanpun dengan mempunyai niat yang baik, jika ia ke sekolah berniatlah yang baik misalnya untuk mendapat ridha ayah bundanya, untuk menjadi orang yang berguna dan lain sebagainya, penuhilah dengan niat yang mulia. Jika ia bekerja, berniatlah dengan niat yang baik misalnya untuk menafkahi keluarganya, untuk menafkahi para fakir miskin dan fuqara’ atau dengan niat-niat mulia yang lainnya, niat itu dan langkah-langkah itu lebih berharga dari dunia dan segala isinya, maksudnya ia berhasil atau tidak dalam pekerjaannya atau sekolahnya maka ia telah mendapatkan pahala yang lebih besar dari dunia dan segala isinya. Demikian indahnya langkah-langkah dalam keluhuran. Langkah kita ke tempat ini pun adalah limpahan anugerah Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita semua, amin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: Bahwa peralatan panah dan pijakan kaki ( yang digunakan ketika menunggangi kuda ) yang ada di sorga itu lebih berharga dari dunia dan segala isinya. Dan Rasul juga menjelaskan bahwa pria dan wanita kelak di sorga sangat diperindah oleh Allah, sampai-sampai jika mereka diperlihatkan sedikit saja kepada penduduk bumi, niscaya bercahayalah seluruh langit dan bumi dengan cahaya mereka, dan aroma wangi mereka akan memenuhi langit dan bumi. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mengatakan syarah dari hadits ini dan menukil dari riwayat lainnya, bahwa wanita-wanita mu’minat yang masuk sorga, jika seandainya mereka dikeluarkan dari sorga dan diperlihatkan di bumi, maka semua cahaya di langit dan bumi akan hilang dengan cahaya mereka, tidak akan lagi terlihat cahaya matahari dan bulan karena tertutup oleh cahaya mereka dari terang benderangnya, bahkan Al Imam Ibn Hajar juga menjelaskan: bahwa kalau seandainya mereka menyingkapkan sedikit saja betisnya maka seluruh penduduk bumi akan terkena fitnah karena indahnya kaum wanita di sorga kelak.

Sering-seringlah meminta keridhaan Allah, sering-seringlah meminta cinta Allah, seringlah meminta pengampunan Allah, seringlah meminta kerinduan Allah, karena apa? Karena siang dan malam kita selalu meminta hajat ini dan itu, jangan-jangan Allah cemburu “Kapan hamba-Ku meminta kasih sayang-Ku?, kapan hamba-Ku meminta kedekatan dengan-Ku, kapan hamba-Ku meminta cinta-Ku, kapan hamba-Ku ingin dicintai oleh-Ku”, tidakkah pernah terlintas untuk memintanya?! Jangan berfikiran kalau seorang pendosa seperti aku, mustahil aku berani meminta cinta Allah subhanahu wata’ala, ingat bahwa Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam hadits qudsy:

وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Bila dia ( seorang hamba ) mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat ke-padanya sedepa. Jika dia datang kepa-daKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”

Maksudnya apa?, bukan kedekatan dengan jarak tetapi kedekatan ruhiah, maka semakin seorang hamba ingin dekat dengan Allah, Allah lebih ingin dekat padanya. Semakin seorang hamba ingin dicintai Allah, maka Allah lebih ingin mencintainya, semakin seorang rindu kepada Allah, maka Allah lebih rindu kepadanya.

Allah subhanahu wata’ala Maha Memberi sebelum kita meminta. Jadi jangan berputus asa dengan kebaikan Allah. Mungkin kita meminta hajat ini dan itu tetapi belum Allah kabulkan, tapi ingat jutaan bahkan triliunan hajat kita telah Allah berikan tanpa kita memintanya. Kebutuhan yang banyak telah diberikan kepada kita seperti duduk, bergerak, makan, minum, dan lain sebagianya kesemuanya itu diberikan kepada kita tanpa perlu kita memintanya. Dia ( Allah ) Maha Memberi sejak dahulu sebelum kita mengenal-Nya dan akan terus memberi sampai kita wafat pun Allah siap terus memberi jika kita menghendakinya. Di dunia Allah memberikan anugerah kepada yang beriman dan yang tidak beriman, yang berdosa dan yang tidak berdosa, yang shalih dan yang tidak shalih, semuanya dilimpahi rahmat dan kasih sayang Allah dan kenikmatan, dan Allah siap memberikan kenikmatan yang abadi untuk mereka yang beriman. Semoga aku dan kalian termasuk di dalam kelompok mereka, amin Allahumma amin.

Oleh sebab itu kita harus memperbanyak dzikrullah, menyeru nama Allah subhanahu wata’ala.

Di kutip dari: majlisrasululloh.or.id

Satu Tanggapan to “Keridhoan Allah”

  1. trima kasih atas pencerahannya……..semoga bermamfaat buat saya saya yg saat ini byk mendapat rintangan yg saya merasa itu menghalangi jalan saya

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: