Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Kemuliaan Menyambut Tamu

Posted by masjidbaitulmamur pada 30 Maret 2010

Islam mengajarkan setiap Muslim agar membangun hubungan baik, tidak saja dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Keharusan menghormati tetangga dan juga tetamu merupakan wujud dari doktrin sosial dan kemanusiaan Islam.
Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, muliakanlah tamunya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Dalam riwayat lain, terdapat tambahan kata, ”Penyambutan terbaik diberikan sehari semalam, sedangkan waktu penyambutan (penjamuan) adalah tiga hari. Penyambutan di luar itu adalah sedekah.” (HR Bukhari dari Abi Syuraih).
Para pakar hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, Imam al-Nawawi, dan juga al-Manawi, sependapat bahwa menghormati tamu tergolong adab Islam, akhlak para nabi, dan tata krama orang-orang mulia. Para ahli hukum Islam, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Abu Hanifah, memandang bahwa memuliakan tamu sebagai sunah, sementara al-Laits dan Imam Ahmad melihatnya sebagai wajib.
Dalam tradisi Islam, penghormatan terhadap tamu dilakukan antara lain menunjukkan wajah ceria dan semringah, bertutur kata dengan lemah lembut (thib al-kalam), menyediakan jamuan makan-minum dengan sebaik-baiknya, serta hangat dan menunjukkan rasa persahabatan yang tinggi.
Penghormatan juga dilakukan dengan mengunjungi (al-ziyarah), memberikan kenang-kenangan, dan memenuhi apa yang menjadi keperluannya. Menurut Ibn Taimiyah, penghormatan belum sah dilakukan manakala tuan rumah tidak sanggup memenuhi segala kebutuhan tamunya.
Meskipun begitu, dalam adab Islam, seorang tamu tak boleh arogan dan mesti tahu diri. Nabi Muhammad SAW melarang seorang Muslim bertamu ke rumah saudaranya kalau hal itu dapat memberatkannya, bahkan menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat (Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi).
Dalam Islam, perintah menghormati tamu bersifat terbuka. Kita diperintahkan menyambut dan menghormati tamu tanpa harus membeda-bedakan: orang kaya atau miskin dan pejabat atau orang biasa. Penghormatan itu diberikan atas dasar keadilan dan kesetaraan (egalitarianisme) dalam semangat pergaulan antarmanusia sejagat.
Inilah sesunguhnya makna firman Allah. ”Hai, manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS Alhujurat [49]: 13). Wallahualam.

Sumber: Republika

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: