Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Ridho Seorang Hamba

Posted by masjidbaitulmamur pada 3 Juni 2010

Ridho Seorang Hamba

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ، فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُذَافَةَ، فَقَالَ مَنْ أَبِي، فَقَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ، ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ يَقُولَ سَلُونِي، فَبَرَكَ عُمَرُ، عَلَى رُكْبَتَيْهِ، فَقَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا، فَسَكَتَ
( صحيح البخاري )
Sungguh Rasulullah saw keluar menyampaikan tausiyah, maka berdirilah Abdullah bin Hudzafah ra, seraya berkata : siapa ayahku?, maka bersabda Rasul saw : ayahmu hudzafah, lalu Rasul saw mengangkat suara dg tegas : silahkan kalian Tanya aku..!, Tanya aku..!, maka berlutut Sayyidina Umar ra dihadapan beliau saw dan berkata : “Kami ridho dg Allah sebagai Tuhan, dan islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi kami, maka Rasul saw tenang dan diam (Shahih Bukhari)
FirmanNya subhanahu wata’ala:
رَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ
“ RahmatKu (Allah) sampai kepada segala sesuatu”
Dan aku adalah bagian dari sesuatu, berarti akan sampai pula kasih sayang Mu kepadaku wahai Rabbi”. Begitu indahnya Rabbul ‘Alamin, memberikan kasih sayang kepada hamba-hambaNya, kepada siapa pun yang membuatNya ridha dan yang mebuatNya murka. Siapa pun yang mengerjakan hal-hal yang dicintai Allah atau yang berbuat hal-hal yang dimurkai Allah, sama-sama diberi kasih sayang Allah . Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
إِنَّ اللهَ فِي النَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَحِيْمٌ
“ Sesungguhnya Allah Maha lembut dan Maha berkasih sayang terhadap manusia”
Namun ada waktunya kelak kenikmatan dunia akan berakhir, di saat itu terlihatlah perbedaan mutlak antara yang menerima kasih sayang Allah dan yang menolak kasih sayang Allah, antara yang hanya menyembah Allah atau yang menyembah selain Allah, perbedaan itu kelak akan tampak di hari kiamat, dan hingga saat setelah kematian kita. Usia dunia yang singkat ini, yang hanya beberapa hari kemudian kehidupan aku dan kalian di dunia selesai, dan setelah itu akan muncul kehidupan di alam barzakh kemudian berlanjut kepada kehidupan akhirah yang abadi dan kekal. Ingatlah bahwa kita akan berpindah ke satu alam kehidupan yang tidak ada akhirnya. Ketika di dunia musibah yang menimpa kita pasti akan ada akhirnya, akan tetapi betapa ruginya jika dalam kehidupan akhirah kita terkena musibah yang kekal.
Seandainya kita dalam kesulitan sepanjang kehidupan kita di dunia, lalu setelah kita wafat kita akan mendapatkan mendapatkan kenikmatan yang abadi, maka sungguh kesulitan di dunia yang menimpa sepanjang kehidupan kita itu sangatlah kecil dan merupakan bagian dari kasih sayang Allah, dan sang maha baik dan dermawan mengajarkan kepada kita doa untuk meminta kebahagiaan dunia dan akhirah, alangkah indahnya sang pemilik dunia dan akhirah .
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا، وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا، وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا، وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا، كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا، إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا، فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا، وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا
( الشمس: 1-15 )
“ Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan seseungguhnya merugilah orang yang mengotorinya, (kaum) tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka diantara mereka, lalu Rasul Allah( nabi Salih) berkata kepada mereka: “(biarkanlah) onta Allah dan minumannya, lalu mereka mendustakan dan menyembelih onta itu, maka tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut dengan tindakanNya itu”. ( QS. As Syams: 1-15 )
Allah bersumpah demi matahari ketika sedang muncul cahaya pagi yang indah, lambang keindahan di siang hari, karena di pagi hari matahari telah muncul tapi cahayanya belum terik dan terasa masih sejuk dan segar. Dan demi bulan ketika telah berpijar, dan demi matahari ketika sedang teriknya, dan demi malam ketika sedang gelap gulita. Allah mengajarkan kita, lihatlah matahari yang tiada pernah lelah yang selalu menerangi bumi, manusia yang berdosa dan yang tidak berdosa tetap Allah terangi dengan cahaya matahari setiap hari, mereka tetap bisa mengambil manfaat dari matahari seakan matahari itu miliknya, atau seakan matahari itu tidak ada yang memilikinya, hidup begitu saja, terbit dan terbenam begitu saja tanpa ada yang mengatur, demikian pula bulan purnama seakan tidak ada yang memilikinya, hamba-hambaKu ( Allah ) mengira tiada yang menciptakannya dari tiada!, bagaimana dengan pagi hari, siang hari dan malam hari, cahaya pagi dan yang lainnya, apakah semua itu tidak ada yang mengaturnya?!. Ingatlah semua itu tiada pernah ada sebelum Allah menciptakan alam ini, dan setelah Allah menciptakan bumi, Allah jadikan bumi berputar sehingga terjadilah siang dan malam, terjadilah pagi dan sore. Allah jadikan matahari dan bulan sehingga terjadilah perhitungan tahun Hijriah dan Syamsiah, waktu muncul bisa dihitung dan lain sebagaianya, jikalau bumi berputarnya tidak stabil, maka bagaimana mungkin bisa menghitung waktu. Misalnya sekarang satu hari 6 jam, besok 24 jam, lusa 30 jam, keesokannya lagi 40 jam, maka bagaimana manusia bisa menghitung waktu, maka Allah atur kesemuanya dengan sempurna, antara siang dan malam, tidak pernah ada dua kali malam dan satu kali siang, Allah mengatur kesemuanya dengan indah, dan apakah semua itu dikira tidak ada yang mengaturnya?!. Firman Allah subhanahu wata’ala :
وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا
( الشمس: 5 )
“ Demi langit serta pembinaannya “. ( QS. As Syams: 5 )
Jika langit itu dibangun dari tiada, maka bagaimana pembangunannya, manusia saja untuk membangun rumah butuh waktu berbulan-bulan, atau mungkin bertahun- tahun jika membangun gedung besar, maka bagaimana dengan alam semesta ini yang demikian luasnya, yang sampai saat ini belum ditemukan ujungnya, di langit yang pertama saja belum ditemukan ujungnya dimana terdapat milyaran galaksi dan galaksi yang terjauh masih belum ditemukan, karena galaksi yang terdekat saja jaraknya untuk sampai kesana adalah 2 juta tahun kecepatan cahaya, pemandangan andromeda yang terdekat ke bumi butuh waktu 2 juta tahun cahaya barulah pemandangan itu sampai kepada kita, jadi pemandangan yang kita lihat sekarang adalah pemandangan 2 juta tahun yang lalu, berarti pemandangan andromeda yang sekarang itu suddah ada 2 juta tahun yang lalu, dan yang sekarang belum tau bentuknya dan menunggu 2 juta tahun yang akan datang untuk sampai kesini, dan itu adalah galaksi yang terdekat, sedangkan galaksi yang ada di langit jumlahnya milyaran, maka bagaimana dengan galaksi yang terjauh?!, dan hingga saat belum dicapai dimana ujungnya langit ini. Allah berfirman:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِير
( الملك: 5 )
“ Sesungguhnya Kami ( Allah ) telah menghiasi langit bumi yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala”. ( QS.Al Mulk: 5 )
Allah hiasi langit dunia dengan bintang-bintang, dan bintang itu hanya ada di langit yang pertama saja, dan selain itu dipenuhi oleh para malaikat muqarrabin. Hadirin hadirat, di langit pertama belum ditemukan ujungnya, bagaimana dengan langit yang kedua yang jauh lebih luas karena bumi dibanding dengan langit yang pertama bagaikan debu di tengah lautan, seluruh planet dan seluruh galaksi lainnya, bumi ini kecil seperti debu di tengah lautan, demikian pula langit ketiga, keempat dan seterusnya semakin lebih besar, ke langit yang pertama saja butuh jutaan atau mungkin milyaran juta kecepatan cahaya, itu yang paling diketahui manusia, namun kecepatan doa “Ya Allah” dalam sekejap menembus langit dan sampai kehadirat Allah subhanahu wata’ala. Kecepatan doa jauh lebih cepat mengalahkan kecepatan cahaya.
Firman Allah subhanahu wata’ala:
وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا
( الشمس: 6 )
“ dan bumi serta penghamparannya”. ( QS.As Syams: 6)
Demi bumi dan penghamparannya, dihamparkan pepohonan dan tumbuhan yang semuanya tumbuh dari tanah dengan berbeda bentuk, berbeda sifat, berbeda fungsi, berbeda warna, dan lain sebagainya, padahal hakika kesemuanya sama-sama berasal dari tanah. Pepohonan yang berbeda bentuknya, buahnya dan rasanya, apakah tidaka ada yang mengaturnya?!, Allah yang mengaturnya. Kemudian firman Allah:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
( الشمس : 7 )
“ Dan jiwa serta penyempurnaannya”.( QS. As Syams: 7 )
Lihatlah kita ini, apakah dikira tidak ada yang menciptakan?, dari tiada menjadi ada, dari sebutir sel yang tidak terlihat mata bisa muncul menjadi besar kemudian menjadi manusia, berbicara, mendengar, melangkah dan lain sebagainya, apakah yang demikian dikira tidak ada yang mengaturnya, siapa yang mengatur milyaran sel tubuh kita, atau milyaran sel mata yang bisa merekam warna, merekam gambar, merekam semua gerakan yang kemudian dikirim dengan kecepatan 1/1000 detik kedalam sel-sel otak, lalu sel otak mengirimkan instruksi dengan kecepatan 1/1000 detik untuk menyampaikan ke anggota tubuh apa yang harus diperbuat, mata melihat teman maka sampailah perintah ke dalam sel otak yang mengatakan perintahkan bibir untuk tersenyum maka bibir tersenyum, jika mata melihat bahaya misalnya di depannya ada jurang, maka segera dikirim ke sel otak dengan kecepatan 1/1000 detik, lalu dalam kecepatan yang sama dikirim pula perintah kepada kaki untuk mundur, hal yang demikian itu siapa yang mengatur, siapa yang mengajari sel-sel itu yang kesemuanya bekerja, dan sel-sel itu tidak berbuat salah jika berbuat salah maka kacaulah dan berantakan tubuh kita.
Demikian itu siapa yang mengaturnya sehingga bekerja dengan fungsinya masing-masing, sel kulit kalau luka barulah dia mengganti dengan sel-sel kulit yang baru, dan setiap sel itu jika diperbesar maka akan seperti suatu negara, setiap satu sel mempunyai pintu masuk untuk masuknya mineral dan semua hal yang bermanfaat baginya, dan ada pintu pembuangan untuk membuang sisa-sisa yang sudah dimanfaatkan oleh sel tubuh, dan setiap butir sel mempunyai pasukan tentara sebagai pembela jika virus masuk kedalamnya ada sel pembelanya dari sel-sel darah putih yang dimiliki setiap sel. Demikian dahsyatnya mineral itu langsung difungsikan ke arah setiap sel, yang diproses bagaikan pabrik, ada bagian-bagian pembuangannya yang dibawa oleh sel darah dan mengangkatnya dan seterusnya bekerja bagaikan pabrik besar yang tidak berhenti setiap detik terus bekerja, siapa yang mengajarinya, siapa yang mengatur rizkinya, siapa yang mengatur sel ini, usinya, makanannya dan lainnya, demikian sel yang mati diatur untuk menciptakan sel-sel baru. Beruntunglah mereka yang mensucikan dirinya , dan merugilah mereka yang mengotori dirinya. Semoga Allah selalu mensucikan diri kita dengan sebaik-baik dan semulia-mulia keadaan, karena yang mensucikan kita adalah yang maha suci, Allah.
Jika kita meminta maka tidak mustahil bagi Allah untuk membantu pensucian diri kita menjadi suci dan luhur, kalau kita berbuat kekuatan kita berapa dibanding kekuatan Yang Maha kuat , maka mintalah kepada Allah bahwa hamba tidak bisa mensucikan diri ini Ya Allah maka bantulah diri ini untuk mensucikan diri lebih suci lagi dengan kelembutan dan kasih sayang , tidak dengan kesedihan dan kesulitan, bantu aku semakin suci dan mulia tetapi jangn dengan musibah dan kesedihan, jangan dengan masalah dan kegundahan, beri aku kesucian, wangi jiwaku dengan cinta padaMu, wangi sanubariku dengan rindu padaMu, wangi hari-hariku dengan kemakmuran, dan hal itu tidak mustahil bagi yang Maha dermawan.
Firman Allah subhanahu wata’ala:
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
( الشمس: 11 )
“(kaum) tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas”. ( QS. As Syams: 11 )
Allah mengingatkan kaum tsamud yang pernah bermaksiat dan melanggar perintah Allah. Dan dari ayat ini saya ingin mengambil satu makna, bahwa Allah subhanahu wata’ala jika telah memerintahkan sesuatu tidak dan tidak di taati maka akan ada akibatnya, dan betapa beruntungnya ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ummat Nabi Shalih ada yang beriman dan ada yang tidak beriman dan hanya diberi satu perintah yaitu ada satu onta yang didatangkan dari padang pasir oleh Allah tidak dan onta ini tidak boleh diganggu, agar dibiarkan dia minum dari sebuah sumur dimana satu hari untuk onta ini dan tidak boleh ada orang lain mengambil air ini, dan di hari esoknya untuk manusia ummat Nabi Shalih disekitar itu, itu saja perintah untuk ummat nabi Shalih dan itupun tidak didengar oleh mereka. Jadi kalau zaman sekarang ada ada yang mengatakan atau ada kepercayaan atau agama yang mengatakan hewan keramat dan lain sebagainya, hal itu sebenarnya ada di masa-masa terdahulu, hewan yang dimuliakan oleh Allah, tetapi barangkali kepercayaan terdahulu terpengaruh oleh waktu dan zaman sehingga mereka lupa dan lupa, telah disebutkan dalam al qur’an tentang nabi Shalih yang diperintah oleh Allah untuk tidak mengganggu onta itu biarkan dia dalam sehari menguasai sumur itu, dan semua mereka mendengar perintah itu dan Allah limpahkan keberkahan, namun akhirnya muncullah seorang pemimpin yang jahat yang berbuat kemungkaran dan mengatakan tidak sepantasnya onta diperlakukan demikian, dan menyuruh membunuh onta itu, maka merekapun membunuhnya dan memotongnya kemudian memakannya, sebagian dari ummat nabi Shalih tidak mau melakukan hal itu dan tetap beriman, maka Allah perintahkan kepada nabi Shalih untuk menyuruh mereka yang beriman berpindah, dan meninggalkan mereka yang melanggar perintah Allah dengan membunuh seekor onta, firman Allah subhanahu wata’ala:
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا، وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا
( الشمس : 14-15 )
“Lalu mereka mendustakan dan menyembelih onta itu, maka tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut dengan tindakanNya itu”. ( QS. As Syams: 14-15 )
Para ahli tafsir berikhtilaf dalam menafsirkan ayat ini, sebagian mengatakan di dalam tafsir Imam Qurtubi bahwa hari pertama mereka makan onta itu wajah mereka menjadi pucat, di hari kedua wajah mereka menjadi merah, dan hari ketiga wajah mereka menjadi hitam dan hangus. Di dalam riwayat lainnya Allah membiarkan mereka terus hidup dalam tiga hari, hari kejadian adalah hari Rabu,dan hari minggu Allah turunkan bala dan musiba. Allah subhanahu wata’ala murka dengan kesalahan mereka, maka Allah ratakan mereka sehingga tidak ada lagi manusia, tidak ada lagi pepohonan, tidak ada lagi gunung, dan wilayah itu menjadi rata. Didalam riwayat lain, mereka telah dikabari bahwa akan datang musibah, maka mereka mengumpulkan 12.000 suku, dan setiap suku mengumpulkan 12.000 pasukan, yang akhirnya menjadi jumlah yang sangat besar, dan kesemuanya dalam keadaan siaga dan waspada, maka Allah perintahkan malaikat yang menjaga matahari untuk mendekat dan merekapun mulai kepanasan kemudian terbakar hingga tidak tersisa lagi dan terbakar oleh panasnya matahari yang didekatkan oleh malaikat ke bumi.
Apa kesalahan mereka? Membunuh seekor onta dari seorang nabi, hati-hati dengan orang-orang yang dimuliakan Allah, mengganggu ontanya saja membuat murka Allah, apalagi menggannggu Rasulnya Allah. Hadirin hadirat, demikian itu adalah peringatan bagi kita, maka berhati-hatilah atas perintah Allah, namun untuk ummat mulia ini Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita, walaupun terus berdosa siang dan malam, tetapi Allah tidak langsung mengadzabnya Allah menunda dan menanti taubat kita, Allah Maha Indah dan Maha bersabar menanti hingga kita mencapai sakaratul maut. Alhamdulillah mulai saat ini kita berkumpul di tempat ini dilimpahi keluhuran oleh Allah subhanahu wata’ala, tiada yang dihinakan oleh Allah kecuali akan dilimpahi keluhuran dan kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala.
يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا
“ Permudahlah dan jangan mempersulit, dan berilah kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti”
Beliau selalu berbuat seperti itu dan Allah selalu memerintah demikian, karena jika bengis maka manusia akan menjauh darinya , jadi jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ada sesutu yang membuat sahabat-sahabatnya resah dan bertanya- tanya, maka beliau risau jika ada diantara mereka yang syak ( ragu ) terhadap Allah, iman, islam atau kerasulannya. Hadits ini sebenarnya riwayatnya panjang dan ada 3 riwayat dalam Shahih Bukhari, namun saya ambil yang paling singkat yaitu ketika Rasulullah keluar menyampaikan tausiah yang panjang tentang hari kiamat, maka diantara para sahabat banyak yang menjerit dan menangis, setelah itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ada diantara para sahabat yang belum faham dengan makna apa yang telah disampaikan nabi, maka Rasulullah mempersilahkan mereka untuk bertanya, maka banyak diantara mereka yang bertanya, justru hal itu yang dikhawatirkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena berarti diantara mereka ada yang ragu dengan kenabian beliau, atau terhadap hari kiamat, terhadap islam. Maka disaat itu ada yang bertanya: “ wahai Rasul jika engkau memang benar-benar nabi dan mempunyai mu’jizat mengetahui sesuatu, maka katakan siapa ayahku?”, maka Rasulullah berkata : ”ayahmu Huzafah”, dan terus ada yang bertanya lagi dengan pertanyaan yang serupa yang sepantasnya tidak diketahui oleh orang umum, maka sayyidina Umar ibn Khattab melihat wajah Rasul mulai murka, karena hal itu menunjukkan seakan-akan mereka tidak percaya atau ragu dengan kenabian beliau, atau ingin menguji beliau. Maka sahabat yang sangat dicintai beliau justru berbalik ingin juga menguji kenabian beliau, sehingga hal itu membuat wajah beliau berubah dan murka, maka sayyidina Umar berlutut di kaki beliau dan berkata:
رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“ Kami ridha Allah sebagai tuhan kami, islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi kami”
Dari hadits ini kita memahami betapa agungnya pemahaman para sahabat serta ihtiram kepada guru. Jadi makna yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah hati-hati dalam bertanya kepada guru, bertanya kepada guru adalah hal yang sangat diperbolehkan bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sering memberi kesempatan kepada para sahabat untuk bertanya, namun cara bertanya yang salah itulah yang bisa membuat kemarahan sang guru, yang akhirnya bukan justru memberi manfaat kepada sang murid tetapi justru membawa musibah. Oleh karena itu sayyidina Umar segera menenangkan nabi karena khawatir nabi akan murka, jangankan membuat murka Rasulullah, mengangkat suara di hadapan Rasulullah saja Allah akan menghapus segala pahala, karena mengangkat suara di depan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
( الحجرات :2 )
“ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya(suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus amalan pahalamu sedangkan kamu tidak menyadari”. ( QS.Al Hujurat: 2 )
Kita mengingat pada tanggal 8 Jumadil tsani tahun 13 H adalah wafatnya sayyidina Abi Bakr As Shiddiq radiyallahu ‘anhu wa ardaahu. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa wafatnya sayyidina Abu Bakr As Shiddiq adalah dalam seindah-indah keadaan. Ketika itu ia bertanya kepada putrinya Aisyah Ra: “Aisyah, Rasulullah ketika wafat dikafani dengan berapa kain kafan?”, Aisyah menjawab: “ dengan 3 kain kafan wahai ayah”, kemudian sayyidina Abi Bakr bertanya lagi: “ kita mempunyai berapa kain kafan?”, maka saayidah Aisyah berkata: “tiga helai ayah, namun yang satu kotor terkena kunyit”, sayyidina Abi Bakr berkata: “ cuci saja yang satu itu dan persiapkan”, maka sayyidah Aisyah berkata: “ wahai ayah beli saja yang baru karena kain ini telah terkena kunyit”, maka sayyidina Abi Bakr berkata : “ yang hidup lebih berhak memakai yang baru daripada yang wafat, sudahlah yang itu saja dipersiapkan”, kemudian beliau bertanya: “ wahai Aisyah wafatnya Rasulullah pada hari apa?”, ini menunjukkan bahwa keadaan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq sudah setengah sadar, maka dijawab oleh sayyidah Aisyah radiyallahu ‘anha: “ beliau wafat pada hari Senin wahai ayah”, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata: “ hari ini, hari apa?”, “hari senin wahai ayah” jawab sayyidah Aisyah, maka sayyidina Abu Bakr berkata: “ aku berharap hari ini sebelum terbenamnya matahari aku wafat”, maka di hari itu juga sebelum terbenamnya matahari beliau pun wafat. Hadirin hadirat, kejadian ini terjadi pada tahun 13 H yaitu 14 abad yang silam. Namun saat ini kembali kita mengingat hari mangkatnya khalifah pertama yang sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sangat mencintai para ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sebagian fitnah muncul yang mengatakan bahwa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq itu tidak disukai atau telah menyakiti perasaan sayyidah Fathimah Az Zahra’ Ra, dijelaskan di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq setelah kejadian tanah fadak, menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan apa-apa, maka terdengar kabar bahwa sayyidah Fathimah tidak enak diri dengan perkataan Abu Bakr, maka datanglah sayyidina Abu Bakr ke rumah sayyidah Fathimah Az Zahra’ kemudian ia mengetuk pintu dan dibuka oleh sayyidina Ali bin Abi thalib suami sayyidah Fathimah dan berkata: “ ada apa wahai Khalifah?”, maka berkata sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra :” bisakah engkau izinkan aku untuk bertemu sayyidah Fathimah Az Zahra’ untuk meminta maaf jika aku mempunyai kesalahan atau barangkali aku telah menyinggung perasaannya”, maka sayyidina Ali datang kepada istrinya sayyidah Fathimah dan berkata:” wahai putri Rasulullah, apakah engkau izinkan Khalifah Abu Bakr untuk masuk, ia datang untuk meminta maaf “, maka sayyidah Fathimah berkata: “ jika engkau izinkan maka aku pun mengizinkan”, maka sayidina Abu Bakr As Shiddiq masuk dan beliau tidak keluar dari rumah Fathimah sebelum ia ridha dan memberi maaf atas sesuatu yang mungkin telah menyinggung perasaan sayyidah Fathimah. Dan sebelum sayyidina Abu Bakr wafat sayyidah Fathimah telah wafat terlebih dahulu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan dalam riwayat yg kuat, bahwa saat wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu sayyidina Mu’adz bin Jabal Radiyallahu ‘anhu sedang berdakwah di Yaman, tiba- tiba di dalam tidurnya ia mendengar suara yang memanggil : “ Wahai Mu’adz apakah engkau bisa tidur sedangkan jasad Rasulullah sudah berada di dalam tanah!”, maka Mu’adz bin Jabal bangun dan ternyata ia bermimpi, maka ia tidur lagi kemudian ia mendengar suara yang sama memangginya :” Wahai Mu’adz, apakah engkau bisa tidur sedangkan jasad Rasulullah telah berada di dalam tanah!”, maka ia pun bangun dan melakukan shalat tahajud dan setelah shalat subuh ia membuka dan membaca Al qur’an dan ayat pertama kali yang ia baca adalah, firman Allah subhanahu wata’ala:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
( الزمر : 30 )
“ Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. ( QS. Az Zumar: 30 )
Maka setelah membaca ayat itu sayyidina Mu’adz langsung berangkat ke Madinah Al Munawwarah dan belum sampai ke Madinah beliau bertemu dengan kaum Anshar dan mereka mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat , maka ia kembali melihat surat Rasulullah yang ditandatangani oleh stempel Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia pun menangis, kemudian ia datang ke rumah sayyidah Fathimah Az Zahra’dan beliau berkata: ” wahai Mu’adz, Rasulullah kirim salam kepadamu, kata Rasulullah jika Mu’adz datang maka sampaikan salam rinduku untuk Mu’adz bin Jabal”, maka sayyidina Mu’adz ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia kemudian kembali lagi ke Yaman karena diperintahkan oleh Rasul untuk tetap kembali lagi ke Yaman.
Demikianlah hari-hari mulia dan agung telah lewat, banyak orang-orang yang beriman yang tetap termuliakan dan terluhurkan, dan hari-hari yang lalu telah lewat banyak orang-orang yang berbuat jahat dan telah melewati dan merasakan kejahatannya di alam Barzakh. Dan bagaimana dengan kita, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah panutan dan idola kita. Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar Allah memuliakan hari-hari kita dengan seindah-indah keadaan, dan menyembuhkan semua yang sakit diantara kita dan mengangkat semua masalah dan kesulitan yang menimpa kita, dan menyingkirkan segala musibah yang datang dan yang akan datang kepada kita , Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram. Ya Allah beri kami kesempatan memandang keindahan dzatMu yang maha indah, Wahai yang maha indah limpahkanlah kepada kami keindahan yang zhahir dan bathin…Amiin

Sumber: majelisrasulullah.org.
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: