Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Melaknat Istri

Posted by masjidbaitulmamur pada 24 April 2010

Pertanyaan:

Apa hukum laknat suami terhadap istrinya dengan sengaja? Apakah istrinya menjadi haram baginya karena laknat tersebut? Atau bahkan termasuk kategori talak? Lalu apa kaffarahnya (tebusannya)?

Jawaban:
Laknat seorang suami terhadap istrinya adalah perbuatan munkar, tidak boleh dilakukan, bahkan termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,

لَعْنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

”Melaknat seorang mukmin adalah seperti membunuhnya.”

Dalam hadits lain disebutkan,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتالُهُ كُفْرٌ

”Mencela seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.”

Dalam hadits lain disebutkan lagi,

”Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.”

Maka yang wajib atasnya adalah bertaubat dari perbuatannya itu dan membebaskan istrinya dari celaan yang telah dilontarkan terhadapnya. Barangsiapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah subhanahu wata’ala menerima taubatnya. Sementara istrinya tetap dalam tanggung jawabnya, ia tidak menjadi haram baginya lantaran laknat tersebut. Lain dari itu, yang wajib atasnya adalah memperlakukannya dengan baik dan senantiasa menjaga lisannya dari setiap perkataan yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala.

Demikian juga sang istri, hendaknya memperlakukan suami dengan baik dan senantiasa menjaga lisannya dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala dan kemarahan suaminya, kecuali berdasarkan kebenaran. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

”Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (An Nisa’: 19)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

”Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al Baqarah: 228)

Hanya Allahlah Pemberi Petunjuk.

Sumber: Fatawa Hai’atu Kibari al Ulama’, Juz 2 hal. 687-688

Dari: ulama sunnah

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: