Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Akidah Umat

Posted by masjidbaitulmamur pada 24 Februari 2010

MENG-EFEKTIFKAN PENJAGAAN AKIDAH UMAT

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…

Indonesia sejak dulu kala, tetap di puja-puja bangsa…

Ada yang tersirat dalam lirik lagu Indonesia Pusaka tersebut, menjadi negeri yang maju dan selalu dipuja oleh rakyatnya karena kebaggaannya menjadi seorang anak bangsa. Pemuda-pemudi generasi penerus yang diharapkan selalu membawa kejayaan bagi negara. Namun apakah yang akan didapatkan seorang anak bangsa jika yang ada di pandangan mereka adalah contoh sosok seorang tokoh utama yang tak layak dipuja. Kemana harus mencari tempat peraduan yang layak agar para penerus bangsa ini tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama dalam ketidak jujuran hidup bermasyarakat.

Generasi yang amat awam terhadap peraturan-peraturan Islam dalam masalah mu’amalah maupun interaksi-interaksi antar manusia. Dengan sendirinya generasi muda ini akan bertahkim -baik secara suka rela maupun terpaksa- kepada sistem peraturan Barat yang kafir, berpikir seperti halnya Barat berpikir, berorientasi seperti orientasi mereka, bahkan berguru di bawah telapak kaki Barat untuk memperoleh pemikiran dan ilmu yang akan menjadi pedoman hidupnya, dan yang akan menduduki posisi sebagai penguasa, yang berhak mengeluarkan perintah dan larangan.

Berbagai kondisi pernah sama-sama kita rasakan, keadaan yang bermacam-macam bukanlah sesuatu yang baru lagi, sehingga kita harus mampu berdiri menyongsong seluruh problematika dengan penuh ketenangan, tidak bingung atau pun gugup. Ketegaran sikap itu bisa dilakukan oleh umat kecuali untuk satu keadaan saja, yaitu tatkala runtuhnya negara Khilafah Islam, dan lenyaplah eksistensinya dari muka bumi. Keadaan seperti itu belum pernah kita alami sepanjang usia, sejak Rasul pilihan, Muhammad saw, mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah hingga periode dimana Barat imperialis kafir meruntuhkannya pada awal abad ini.

Kondisi umat yang berada dalam keadaan hina amatlah mengherankan, padahal Islam- tidak seperti umat-umat lainnya- adalah pemilik dari kekayaan pemikiran dan kekayaan perundang-undangan yang amat luar biasa. Umat ini bukan hanya memiliki sumber-sumber perundang-undangan yang mencakup seluruh aspek kehidupan, tetapi juga memiliki warisan yang tiada ternilai yang ditinggalkan oleh para ulamanya yang cerdas di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sampai-sampai jika seseorang membahas satu masalah di bidang ekonomi, sosial atau politik –misalnya- maka Islam pasti akan menemukan dalam turats (khasanah)nya berbagai tulisan yang sangat banyak yang membahas masalah tersebut dengan pembahasan yang mendalam dan pemikiran yang cemerlang.

Betapa amat mengherankan, umat yang besar ini berada dalam keadaan hina, mendengar seluruh teriakan dan mengikuti orang-orang kafir lagi dzalim, padahal umat ini –tidak seperti umat-umat lain- memiliki beban (kewajiban) untuk menyebarluaskan risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Seharusnya dialah yang patut didengar oleh umat-umat lain, bukan sebagai pendengar (obyek). Selayaknya umat ini memperoleh derajat yang mulia dan diikuti (diteladani). Sepatutnya umat ini menjadi pengajar umat manusia, bukan umat yang belajar (diajar). Artinya, umat ini ditengah-tengah umat manusia lainnya harus menjadi seperti Rasulullah di tengah-tengah umatnya. Allah Swt berfirman:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

(QS. al-Baqarah [2]:

Orang yang benar-benar mengamati keyakinan kaum Muslim sekarang ini mengetahui, bahwa penampakan-penampakan utama dari kerusakan-kerusakan akidah tidak keluar dari tiga penampakan, yaitu : 1- Kelemahan iman, 2- Kekufuran-kekufuran yang tampak pada kaum Muslim, 3- Tidak menjadikan akidah Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir).

Sementara Ahlul Hadits (yakni sebagian ahli sunnah wal jama’ah) mengatakan bahwa: al-îmânu ma’rifatun bil jinan wa iqrârun bil lisân wa ‘amalun bil arkân (iman itu adalah pembenaran dengan hati, pernyataan dengan lisan serta melaksanakan dengan perbuatan).

Aqidah itu sendiri jika dilihat dalam arti istilah yaitu apa-apa yang diikat atau dipercayai oleh hati dan pikiran. Sedangkan yang dimaksud dengan akidah islam adalah segala perkara yang dipercayai oleh umat islam dengan mantap menurut akal sehatnya. Maka jika bangsa ini masih memiliki orang-orang yang berakal sehat dan berhati suci, tak dipungkiri bahwa kita bisa menjadi bangsa yang membanggakan. Hampir keseluruhan perkara besar pada bangsa ini dikarenakan pemuka dan pemimpin kita sudah menafikan akal sehat dan kesucian hatinya.

(Jakarta Islamaic Centre)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: