Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Gizi yang Bikin Otak Bugar

Posted by masjidbaitulmamur pada 22 Februari 2010

clip_image001Gizi yang Bikin Otak Bugar

Penurunan kinerja otak bisa dialami oleh siapa pun. Bahkan, mereka yang masih berusia 30-an tahun. Untuk bisa berfungsi dengan baik, otak membutuhkan pasokan gizi yang seimbang.

Semua zat gizi itu digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan bahan esensial yang disebut adenosin trifosfat (ATP). Senyawa ini melepaskan energi yang tersimpan untuk membangkitkan neurotransmiter, mendistribusikan protein ke dalam sel dan membantu menyalurkan impuls listrik.

Untuk bekerja otak memerlukan energi. Sumbernya adalah glukosa yang berada dalam darah. Otak juga memerlukan asam amino, serta vitamin asam folat dan mineral.

Asam amino yang diutamakan untuk otak adalah glutamat. Ia berperan sebagai transmiter pada lebih dari setengah bagian saraf terminal di otak. Asam amino dalam jumlah berlimpah terdapat dalam kuning telur, susu segar, hati, dan keju. Juga di ragi, beberapa jenis kacang, kacang kedelai, dan sereal.

Selain asam amino dan vitamin, hormon estrogen juga bermanfaat untuk mendukung kerja otak. Hormon ini mampu menurunkan risiko Alzheimer pada wanita pasca menopause.

Studi di laboratorium menunjukkan tikus yang diberi suplemen magnesium dalam dosis ekstra memiliki daya ingat jangka panjang lebih baik dan punya kemampuan belajar lebih baik dibanding tikus yang tidak diberi magnesium.

“Baik pada tikus muda dan tua, magnesium meningkatkan kekenyalan antara sinaps (sambungan antara neuoron) dan meningkatkan kepadatan sinaps di hippocampus, bagian otak yang berperan dalam daya ingat dan kemampuan belajar,” kata Guosong Liu, direktur Center for Learning and Memory di Tsinghua University, Beijing, China.

Magnesium adalah mineral penting yang bisa kita temukan pada sayuran hijau, terutama bayam. Magnesium juga berperan penting dalam pembentukan sistem imun tubuh.

Namun sebelum Anda memborong suplemen magnesium, perlu dicatat pula bahwa penelitian ini masih bersifat awal dan perlu pembuktian lebih lanjut. Selain itu, hasil ujicoba pada hewan tak selalu berdampak sama pada manusia.

KOMPAS.com –

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: