Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Sakit membawa nikmat

Posted by masjidbaitulmamur pada 3 April 2010

Sungguh kasihan orang yang kurang iman dan ilmu. Hari demi hari yang dilalui di dunia ini selalu diliputi kesengsaraan yang datang silih berganti. Cemas dan gelisah merupakan indikasi hati yang jauh dari ketenteraman, yang membuat nikmat yang ada tidak lagi dirasakan sebagai nikmat.

Begitu banyak hal yang tidak diinginkan tiba-tiba datang menimpa. Karena belum tahu ilmunya, perasaan pun semakin tertekan dan pasti ujungnya berupa penderitaan. Di antara hal yang paling umum diberikan kepada manusia adalah saat-saat ditimpa penyakit. Sebagian besar manusia ketika ditimpa penyakit biasanya jatuh mengeluh. Tubuh lunglai, wajah pun langsung kuyu, pudar cahayanya. Padahal semakin banyak mengeluh, semakin terasa penderitaannya. Semakin terasa karena hati tidak mau menerima musibah ini. Maka, perasaan pun menjadi tertekan dan gelisah. Yang paling mencelakakan dan kian menambah kesengsaraan adalah pikiran yang tidak terkuasai dengan baik. Biasanya menerawang jauh serta sebagian besar yang dipikirkan dipersulit dan dikembangkan semakin parah dan menegangkan.

Orang yang terkena gejala tumor, misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kondisi yang sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus dioperasi ? Lalu,bagaimana kalau operasinya gagal ? Belum lagi biayanya yang pasti sangat besar. Wah, bagaimana ya ? Akibatnya, jelas orang itu akan jauh lebih menderita dibanding penderitaan yang sebenarnya. Semua itu terjadi karena kesalahan berpikir. Belum paham terhadap hikmah penyakit yang menimpanya, sehingga salah dalam menyikapinya. Hasilnya rugi di dunia dan di akhirat.

Kondisi dan sikap mental semacam ini harus segera kita atasi. Kita harus senantiasa sehat karena hanya dengan kesehatanlah gerak hidup ini menjadi lancar. Kalaupun tubuh memang harus sakit, maka hati kita harus benar-benar tetap berfungsi dengan baik. Bagaimana cara menyiasatinya ? Insya Alloh resep ini akan bermanfaat bagi kita.

Pertama, yakinilah bahwa selama hidup di dunia ini pasti akan dipergilirkan aneka musibah. Sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla (yang artinya), “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah [2] : 155)

Kedua, yakinlah bahwa segalanya milik Alloh. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Alloh lah apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang) dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24] : 64) Memang, jagad raya alam semesta berikut isinya ini benar-benar mutlak milik Alloh, Dia-lah yang Menciptakan, Mengatur, dan Mengurusnya setiap saat. Sedangkan kita, jangankan membuat, menggambarnya saja sudah tidak mampu. Bahkan, untuk tubuh ini saja, jangankan bisa mengurusnya, tahu isinya pun tidak.

Sekali lagi, semuanya mutlak milik-Nya. Dan Alloh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, tanpa dapat dicegah, atau di halangi siapapun. Dalam hal ini Alloh berfirman (yang artinya), “Jika Alloh menimpakan suatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus [10] : 107)

Begitupun kalau Alloh telah menghendaki tubuh ini sakit, ya wajar saja karena memang milik-Nya. Mengapa kita harus pusing, kecewa, atau protes ? Ibarat seseorang menitipkan baju miliknya kepada kita, kalau suatu saat diambil kembali, mengapa kita harus keberatan ? Tidaklah layak kita berbuat seperti itu. Seyogyanya kita memilih untuk ridha saja dalam menerima apa yang telah terjadi. Segala kekecewaan, penyesalan, dan keluh kesah, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Sekiranya ada air tumpah dari gelas, apa perlunya kita menangis sedih, menyesali, dan mengeluhkan air yang sudah menyerap ke dalam tanah ? Sungguh semua itu merupakan perbuatan sia-sia yang hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan pikiran. Lebih baik kita kerahkan segenap tenaga, pikiran, dan waktu tersebut untuk mencari air yang lain lagi.

Ketiga, yakinilah bahwa Alloh itu Mahabijaksana dalam menentukan segala-galanya. Dia Mahatahu akan keadaan tubuh kita karena memang Dia yang membuat dan yang mengurusnya. Mahasuci Alloh dari segala perbuatan zhalim. Semua yang ditimpakan kepada makhluk-Nya sudah diukur dengan sempurna. Teramat mustahil akan over dosis. Alloh berfirman (yang artinya), “Alloh tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS Al Baqarah [2] :286)

Jadi, Alloh memang tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Dia Mahatahu segala-galanya. Maka, Dia pun Mahatahu akan kemampuan maksimal kita menahan sakit. Dia Mahatahu biaya yang dikeluarkan dan Dia pun Mahatahu akan keadaan ekonomi kita. Dia Mahatahu segala dampak yang akan terjadi pada masa depan kita dengan adanya penyakit ini. Pokoknya, Dia Mahatahu segala awal dan akhir dari musibah yang memang sudah diukur-Nya dengan penuh kasih dan sayang.

Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Alloh, hentikanlah membebani pikiran dan berburuk sangka kepada-Nya. Lebih baik kita kerahkan segala potensi yang ada untuk berusaha memahami hikmah di balik semua kejadian ini. Sahabat, bila kita telah memahami hikmahnya, maka ternyata sakit itu adalah suatu takdir yang sangat menguntungkan karena akan menggugurkan dosa-dosa kita. Bukankah kita selalu merindukan ampunan-Nya ? Inilah salah satu bentuk pengabulan keinginan kita itu.

Rasulullah SAW bersabda, “KETIKA SESEORANG DITIMPA PENDERITAAN (SAKIT), MAKA ALLOH MENGUTUS DUA ORANG MALAIKAT KEPADANYA. DIA BERFIRMAN, ‘DENGARKANLAH APA KATA HAMBA-KU KETIKA DITENGOK ORANG-ORANG.’ JIKA IA MENGUCAPKAN ALHAMDULILLAH, MAKA ALLOH BERFIRMAN KEPADA DUA MALAIKAT TERSEBUT, ‘SAMPAIKANLAH KEPADANYA, JIKA AKU MEMATIKANNYA AKIBAT PENYAKITNYA, MAKA PASTI MASUK SYURGA, DAN JIKA IA AKU SEMBUHKAN, MAKA PASTI DAGING DAN DARAHNYA DIGANTI DENGAN YANG LEBIH BAIK DARIPADA ASALNYA, SERTA KUJADIKAN PENDERITAAN (PENYAKITNYA) SEBAGAI PENEBUS DOSA-DOSANYA.’ ” (HR Al Faqih)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “RINTIHAN ORANG YANG SAKIT DITULIS SEBAGAI TASBIH, JERITANNYA SEBAGAI TAHLIL, BERNAFASNYA SEDEKAH, TIDURNYA ADALAH IBADAH, DAN BERBOLAK-BALIKNYA KETIKA TIDUR SEPERTI PERANG SABIL. DAN DITULIS PULA BAGINYA SEBAIK-BAIK AMAL YANG BIASANYA IA LAKUKAN DI WAKTU SEHATNYA.”

Adapun hikmah lainnya adalah bahwa sakit dapat dijadikan sebagai ladang tafakkur. Betapa tidak ? Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan, yang besar kemungkinan akan dilakukan jika kita dalam keadaan sehat. Kita menjadi insyaf, betapa penting dan mahalnya harga kesehatan yang biasanya disia-siakan ketika Alloh sedang menyehatkan kita.

Selain itu, sakit pun ternyata merupakan jalan rizki bagi para dokter dan petugas kesehatan, yang sekaligus menjadi ladang amal shaleh sekiranya mereka ini ikhlas. Sedangkan bagi kita mencari obat penyembuh tersebut niscaya menjadi ladang pahala ikhtiar. Soal sembuh atau tidak, serahkanlah sepenuhnya pada quradah dan iradah Alloh. Insya Alloh pahala ikhtiar itu akan didapatkan sepanjang ikhtiar yang dilakukannya sesuai dengan kehendak dan ketentuan-Nya.

Semoga Alloh yang benar-benar sedang Menyaksikan dan Menguasai setiap getaran hati pada diri hamba-hamba pilihan-Nya, senantiasa menjaga, melindungi, serta memelihara kita dari prasangka buruk terhadap ketentuan-Nya. Lebih dari itu, kita justru diberi-Nya kekuatan untuk mampu menikmati dengan penuh kegembiraan atas segala ketentuan yang Dia tetapkan pada kita. *****

-K.H. Abdullah Gymnastiar-

arekpakis’s.blog

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: