Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Peringatan Maulid Nabi

Posted by masjidbaitulmamur pada 28 Februari 2010

Maulid Nabi Karakter

Pengangkatan Muhammad SAW sebagai rasul bukan kebetulan, tapi melalui proses persiapan yang sangat matang. Beliau dilahirkan sebagai yatim piatu, kemudian dirawat dan disusui oleh Halimatussa’diyah dalam sebuah perkampungan Bani Sa’d yang jauh dari polusi moral. Kota Makkah saat itu sedang mengalami dekadensi moral. Setelah itu, dididik dan dikader oleh kakeknya, Abdul Mutallib, sang pemimpin Suku Quraisy yang sangat disegani. Setelah sang kakek wafat, Muhammad diasuh dan dibina oleh pamannya, Abu Thalib.
Profesi pertama yang ditekuni Muhammad SAW adalah gembala kambing. Dalam buku Hadyus Sirah al-Nabawiyyah fi al-Taghyir al-Ijtima’i karya Hannan Lahham, dinyatakan, "Allah tidak mengutus seorang nabi, melainkan pernah menjadi pengembala kambing." Profesi ini memberi pelajaran bagaimana seorang pemimpin harus dapat mempersatukan yang dipimpin (mempersatukan kambing dalam jumlah besar di padang pasir bukan perkara mudah) dan memerhatikan kemaslahatan umat.
Profesi Muhammad SAW setelah itu adalah pedagang (bisnis). Karena kejujuran, etos kerjanya yang produktif, dan integritasnya, beliau bermitra dengan konglomerat Makkah, Khadijah, dalam menjalankan bisnis ekspor impor komoditas sembako dan lainnya ke negeri Syam (Suriah). Beliau tidak hanya sukses dalam berbisnis karena kejujuran dan keuletannya, tetapi karena keramahtamahannya dalam bertransaksi dan melayani kebutuhan masyarakat. Kepribadiannya yang luhur dan mulia itulah yang kemudian memikat hati Khajidah untuk bersedia menjadi istri tercintanya.
Sebelum diangkat menjadi rasul, secara sosial beliau telah teruji dalam menyelesaikan konflik antarsuku tentang pelekatan hajar aswad. Ketika semua suku mengedepankan egoisitasnya yang nyaris memicu bentrokan, beliau tampil dan dipercaya masyarakatnya untuk menyelesaikan konflik ini. Dengan menggelar sorbannya dan meletakkan hajar aswad di atas, lalu masing-masing kepala suku diberi kesempatan untuk memegang sorban dan memindahkan batu itu secara bersama-sama, terciptalah perdamaian di antara mereka. Sikap akomodatif dan visi perdamaian sebagai calon pemimpin umat itu menyebabkannya memperoleh "amanah award" yang hingga saat ini belum didapatkan seorang pemimpin pun sesudah beliau.
Oleh karena itu, dalam memaknai maulid, yang terpenting bukan perayaannya yang bersifat seremonial itu, tapi pencerahan moral dan spiritual beliau sebagai pemimpin teladan dan pendidik karakter Islami sepanjang masa. Keberhasilan beliau menjadi pemimpin paling berpengaruh di dunia–setidak-tidaknya menurut pengakuan Michael H Hart–bukan semata-mata karena keturunan orang baik, tapi karena kepribadian moralnya yang mulia dan patut diteladani (QS Alqalam [64]: 4) dan etos sosial politik yang tinggi dalam menyatukan, mencerdaskan, memperadabkan, dan menyejahterakan umat manusia.
Pendidikan karakter
Maulid Nabi SAW sungguh sarat dengan nilai-nilai humanis yang kompatibel untuk pendidikan karakter. Nabi SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia serta mendidik umat manusia untuk belajar sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup mulai dari intimidasi, pemboikotan sosial ekonomi, pengusiran, hingga ancaman pembunuhan.
Kesabaran dan ketahanan mental spiritual yang demikian tangguh membuat Nabi SAW dan para sahabatnya tidak mudah putus asa, bahkan menjadikan mereka semakin solid dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan.Kelahiran beliau juga menumbuhkan sikap mental heroik, ‘berjuang dengan hati dan tanpa henti’, serta tidak mudah menyerah dan kalah sebelum berperang. Sikap mental dan karakter pejuang sejati yang ditanamkan kepada para sahabatnya itu memberikan pelajaran moral kepada kita, betapa pentingnya sinergi berbagai kekuatan untuk mewujudkan sistem sosial dan politik masa depan yang lebih baik: masyarakat madani yang berketuhanan dan berperadaban yang adil dan sejahtera.
Pendidikan karakter idealnya membuahkan pribadi-pribadi pejuang moralitas dan penegak keadilan untuk semua. Dalam  Fiqh al-Sirah -nya, Syekh Sa’id Ramadhan al-Bouti menyatakan bahwa kelahiran dan hijrah Nabi SAW merupakan sumber dan oase pendidikan karakter. Dalam membentuk karakter ( character building ), banyak nilai edukatif dari Maulid Nabi SAW yang patut diapresiasi dan diaktualisasikan. Pertama, pendidikan karakter harus dilandasi nilai-nilai tauhid yang kokoh.  Kedua, visi dan orientasi pendidikan karakter adalah transformasi nilai dan membangun integritas kepribadian: kedalaman spiritual dan kemuliaan moral. Ketiga, proses pendidikan karakter harus ‘dikawal’ dengan spiritualisasi sikap dan mental. Artinya, membentuk karakter tidak cukup hanya dengan transfer pengetahuan, tanpa dibarengi pencerdasan spiritual dan moral.
Perkataan, sikap, serta perbuatan bersatu dan bersinergi dalam karakter dan kepribadian. Keempat, hasil ( output, outcome ) pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan saat ini adalah kemantapan hati dan istikamah dalam menjadikan nilai-nilai Islam sebagai  way of life . Kelima, pendidikan karakter juga perlu dibingkai dalam keseimbangan paradigma. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian progres, khususnya bidang ekonomi, tapi mengorbankan perspektif kosmologis tentang kesatuan manusia dan alam lingkungannya. Memaknai maulid menuntut kita mampu melakukan perubahan menuju peningkatan kualitas iman dan takwa, ketakwaan personal, sekaligus ketakwaan sosial dan kultural. Keteladanan ini ditunjukkan oleh Nabi SAW di Madinah, yaitu mendirikan masjid sebagai pusat spiritualisasi dan peradaban, pemersatuan umat (kaum Muhajirin dan Anshar), pendeklarasian kerukunan umat beragama, penandatanganan piagam Madinah, hingga penegakan supremasi hukum melalui pemerintahan yang amanah, bersih, berwibawa, dan bermartabat.
Dengan demikian, maulid harus dimaknai sebagai inspirasi menuju spiritualisasi diri sekaligus transformasi nilai menjadi integritas pribadi Muslim yang berkarakter pejuang yang mukhlis, jujur, dan tangguh. Maulid harus selalu menjadi spirit atau elan vital dalam melejitkan energi umat Islam dari sekadar sebagai Mukmin yang saleh (memiliki kesalehan personal) menjadi Mukmin yang muslih (reformatif, transformatif, kesalehan sosial, kesalehan lingkungan, kesalehan birokrasi, kesalehan budaya, dan sebagainya).
Melalui spirit maulid ini pula, umat Islam dituntut untuk mengaktualisasikan keteladanan dan karakter saleh dan muslih menuju kebangkitan, kemajuan, dan keluhuran peradaban Islam. Komitmen, optimisme, disiplin, profesionalisme, keterbukaan, dan sinergi potensi umat perlu dioptimalkan sedemikian rupa guna mewujudkan visi dan spirit profetik: mewujudkan Islam sebagai  rahmatan lil alamin .

(Rpk)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: