Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Aksi Umat Selamatkan Alam Indonesia

Posted by masjidbaitulmamur pada 15 Februari 2010

Sebagai mayoritas penduduk, umat Islam tak boleh abai terhadap masalah lingkungan.

Kerusakan alam yang terjadi di Tanah Air kian memprihatinkan. Bencana alam datang silih berganti. Berdasarkan data pada Kementerian Negara Lingkungan hidup, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,1 juta hektare per tahun. Tingkat kehancuran hutan itu terntu saja tak sebanding dengan upaya reboisasai yang dilakukan pemerintah yang hanya
500 ribu hektare per tahun.

Aksi ilegal logging yang dilakukan secara membabi buta telah membuat hutan Indonesia, sebagai paru-paru dunia, kian gundul. Bencana bajir pun terjadi di mana-mana. Krisis air terus mengancam kehidupan masyarakat di Tanah Air. Ya, laju kerusakan hutan yang semakin mengkhawatirkan akan turut mempercepat dampak pemanasan global yang akan bisa berdampak pada kehancuran alam.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2,7 juta hektare per tahun. Menurut data World Reseach Institute, sebuah lembaga tanki pemikir di Amerika Serikat (AS), dari tutupan hutan Indonesia seluas 130 juta hektare, sekitar 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang.

Tak hanya hutan yang hancur. Menurut data Institut Hijau Indonesia, setiap tahunnya, terjadi konversi lahan pertanian sekitar 65 ribu hektare. Sebanyak 42 persen hutan manggrove yang menjaga kawasan pantai rusak berat dan 23 persen rusak ringan. 92 persen terumbu karang dalam radius 60 ribu kilometer persegi telah hancur. Itu artinya, tinggal 8,0 persen terumbu karang yang berada dalam kondisi baik.

Abrasi terjadi di 60 lokasi pantai dan muara di 17 provinsi. Laut pun turut tercemat. Menurut Institut Hijau Indonesia, sekitar 85 persen pencemaran laut berasal dari darat. Yang tak kalah memprihatinkan, dari 89 satuan wilayah sungai di Indonesia, lebih dari 90 persen sedang berada dalam kondisi yang rusak dan kritis. Fakta ini sungguh sangat memprihatinkan.

Rusaknya hutan dan tercermnya lingkungan juga telah berdampak pada krisis air. Berdasarkan data WHO (2000), diperkirakan terdapat lebih dari dua miliar manusia yang tersebar di 40 negara mengalami dampak kekurangan air. Sebanyak 1,1 miliar penduduk bumi tidak mendapatkan air yang memadai dan 2,4 miliar jiwa tidak mendapatkan sanitasi yang layak.

Hal itu juga terjadi di Indonesia. Kebutuhan air bersih di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Konsumsi air diperkirakan terus naik hingga 15-35 persen per kapita per tahun. Meningkatnya kebutuhan air bersih itu tak didukung dengan ketersediaan air bersih. Pembabatan hutan, pencemaran lingkungan serta kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan telah membuat ketersediaan air semakin menipis.

Pada 2007 saja, diperkirakan sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itupun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan.

Sungai sebagai tempat bergantung puluhan juta jiwa semakin kotor. Sangat sulit untuk menemukan sungai yang mengalirkan air bersih , seperti 20 tahun lalu. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Padahal, Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, mengungkapkan, laju kerusakan lingkungan di Indonesia semakin parah. Saat ini, papar dia, laju kerusakan hutan sudah berada di atas satu juta hektare per tahun. Menurut Chalid, kerusakan lingkungan ini harus segera dihentikan.

Regulasi yang tak peduli lingkungan serta penegakan hukum yang lemah telah mendorong kian rusaknya lingkungan hidup. Umat Islam, kata Chalid, sebagai mayoritas penduduk di Indonesia, umat Islam tak boleh abai terhadap masalah lingkungan. Sebab, kata dia, ajaran Islam sangat ramah terhadap lingkungan.

Chalid berharap agar ormas Islam dapat lebih proaktif dalam melindungi dan melestarikan lingkungan. ”Kami rindu majelis ulama mengeluarkan fatwa tentang bahaya kerusakan alam yang terjadi,” tutur dia. Menurutnya, pemimpin Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis dan ormas Islam lainnya duduk bersama untuk membicarakan bahaya kerusakan alam yang terjadi.

”Para ulama dan pemimpin umat juga harus mengingatkan negara akan bahaya kehancuran alam akibat kerusakan terpimpin,” papar Chalid menegaskan. Pada Maret 2010, di Bogor, Jawa Barat akan digelar Konferensi Aksi Umat Islam dalam mengahadapi tantangan perubahan iklim. Puluhan negara Muslim, di antaranya, Arab Saudi, Mesir, Iran, Brunei, termasuk Indonesia akan menghadiri pertemuan itu.

Konferensi yang didukung juga oleh ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU itu, merupakan agenda lanjutan dari deklarasi Muslim Seven Year Action Plan for Climate Change, yang dideklarasikan di Istanbul, Turki, pada awal Juni 2009 lalu. Dalam pertemuan nanti akan dibentuk Muslim Association for Climate Change Action (MACCA).

Ketua Dewan Pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), Ismid Hadad, menegaskan, tugas menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga seluruh umat Islam. ”Bahkan, ajaran Islam juga mendukung supaya umatnya peduli terhadap lingkungan,” tuturnya.

Menurut Ismid, peran dan kepedulian ormas Islam dalam isu-isu lingkungan dapat mendorong umat Islam melakukan aksi nyata. Terutama, dalam mengatasi masalah perubahan iklim. Karena sesungguhnya, Islam itu adalah rahmat bagi sekalian alam. ed; heri ruslan
(Rpk)

Satu Tanggapan to “Aksi Umat Selamatkan Alam Indonesia”

  1. Aken said

    Thx ya gan ,,,
    berkat nie Skripsi ..
    wa terbantu …
    guru ku ambil neh skripsi untuk PR nya …
    THX bget yah ,,,
    Infonya berguna banget buat TINGJAT Pelajar SMA :))

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: