Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Perdagangan Anak

”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan…” (QS al-Isra ayat 31)

Anak merupakan amanat yang diberikan Allah SWT kepada setiap orangtua. Sayangnya, masih banyak orangtua di negeri ini yang mengabaikan bahkan menyalahgunakan amanat Sang Khalik itu. Terungkapnya kasus penjualan dan kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini membuktikan betapa kesadaran untuk melindungi dan mendidik anak masih memperihatinkan.

Data pada Komnas Perlindung Anak menunjukkan betapa kasus penjualan anak di Tanah Air menunjukkan peningkatan. Pada 2008, tercatat 72 kasus penjualan bayi dan 12 bayi hilang di tempat bersalin. Pada 2009, kasus penjualan anak melonjak menjadi 102 kasus dan anak hilang di tempat persalinan naik menjadi 26 kasus.

”Ini merupakan suatu fenomena gunung es,” ungkap Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi. Itu berarti, kasus penjualan anak yang sebenarnya di tengah-tengah masyarakat sungguh sangat tinggi. Berdasarkan hitungan dari kasus yang terungkap, kasus penjualan anak naik sekitar 20 hingga 25 persen per tahunnya.

Menurut Kak Seto, begitu ia akrab disapa, kasus penjualan anak memang mulai terungkap ke permukaan. Hal ini, kata dia, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat. Pihaknya meminta agar masyarakat dan orangtua lebih waspada. ”Ada bayi yang diculik, lalu dibunuh, diambil organ tubuhnya, lalu diisi dengan narkoba,” tuturnya. Sungguh tindakan itu sudah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya kasus penjualan anak di Tanah Air. Kemiskinan merupakan faktor klasik yang menyebabkan sejumlah orangtua tega menjual anaknya. Demi meraup uang, tak sedikit orangtua yang melepaskan tanggung jawabnya dengan menjual anaknya kepada sindikat perdagangan anak.

Kebanyakan pelaku penjual anak itu adalah orangtuanya sendiri. Beberapa waktu silam, aparat Polsek Taman, Pemalang, Jawa Tengah, menangkap orangtua yang diduga menjual anaknya yang baru berusia 1,5 tahun. Sang ayah menjual puterinya kepada seseorang di Jakarta, seharga Rp 2 juta.

Ada pula, orangtua yang telah menjual anaknya yang masih dalam kandungan. Dengan sistem ijon, sindikat perdagangan anak telah membayar si jabang bayi yang masih dalam kandungan. Begitu lahir, anak tersebut diambil oleh si pembeli. Kasus lainnya adalah menculik anak yang baru lahir dan kemudian dijual kepada sindikat perdagangan anak.

Padahal dengan tegas Allah SWT dan Rasulullah SAW telah memerintahkan para orangtua untuk membesarkan, mendidik dan melindungi anak-anak. Bahkan, Sang Khalik pun telah menjamin rezeki bagi setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini.

Allah berfirman dalam Alquran surat al-Isra ayat 31, ”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Rasulullah SAW pun bersabda, ”Kewajiban orangtua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, mendidik dan mengajarinya membaca Alquran, memanah dan memberi nafkah dengan rezeki yang baik serta mengawinkannya apabila dia (anak) telah mendapatkan jodoh.” (HR al-Hakim).

Tak cuma agama yang memerintahkan para orangtua di Tanah Air untuk melindungi anak-anaknya. Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mengamanatkan kepada setiap orangtua untuk melindungi anak-anaknya. UU mewajibkan setiap warga negara untuk melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Selain faktor kemiskinan, kasus penjualan anak makin merebak karena dipicu oleh tingginya permintaan. Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, mengungkapkan, maraknya kasus penjualan anak yang dilakukan orangtua didahului oleh tingginya permintaan. ”Karena ada permintaan, lalu muncul agen dan akhirnya ada sindikat yang terorganisir dengan baik,” tuturnya.

Rendahnya kesadaran dan pemahaman sebagian masyarakat terhadap agama juga menjadi salah satu faktornya. Terus terungkapnya kasus penjualan anak sudah selayaknya menjadi perhatian semua kalangan. Negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan menyejahterakan warga negaranya dan tentu saja harus segera memutus mata rantai perdagangan anak dengan aksi-aksinya.

Dari sisi agama, para ulama, ustaz, mubaligh serta ormas-ormas Islam pun perlu lebih gencar memberikan pencerahan dan penyadaran kepada umat tentang pentingnya mendidik dan melindungi anak. Saatnya, semua elemen bangsa bergandeng tangan untuk memerangi sindikat perdagangan anak. Sehingga negeri ini bisa menjadi tempat berlindung yang aman bagi setiap anak.

Sumber tulisan: Damanhuri Zuhri, Prima Restri

2 Tanggapan to “Perdagangan Anak”

  1. anak itu titioan karena dipercaya , loh kok dijual .teganya duitnya buat makan ? alasannya pengin pegang duitbanyak , kasihan deh

  2. Hi there, I found your site via Google while searching for a related topic, your website came up, it looks good. I’ve bookmarked it in my google bookmarks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: