Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Pembinaan akhlaq

Posted by masjidbaitulmamur pada 16 Februari 2010

Akhlak adalah cermin tingkah laku manusia. Akhlak menjadi standar kelayakan manusia untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Akhlak mulia adalah anugerah terindah yang diberikan Allah SWT kepada para hamba-Nya. Manusia yang berakhlak mulia ibarat mutiara yang bersinar dalam kegelapan. Ia bak pohon yang tumbuh dan berbuah, kemudian buahnya dapat bermanfaat bagi yang memakannya.

Akhlak juga diibaratkan sebagai air yang jernih dan suci, yang bisa menyucikan dan memberi banyak manfaat bagi makhluk hidup. Bahkan, dalam konteks yang lebih luas, akhlak memiliki peranan penting dalam terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.

Akhlak menjadi ikon determinan dalam proses kemajuan bangsa, negara, dan agama. Oleh karena itu, upaya pembinaan akhlak mulia adalah suatu keniscayaan yang harus terus dilakukan, kapan saja dan di mana saja.

Lantas siapa yang bertanggung jawab untuk membina akhlak ini dalam lingkup keluarga dan masyarakat? Pertama, pada lingkungan keluarga, tentu saja orang tua memiliki peranan penting dalam membangun akhlak anak-anak. Sebab, secara psikologis, orang tua adalah bagian terdekat sekaligus memiliki pengaruh besar dalam diri dan jiwa sang anak.

Untuk itu, orang tua seyogianya selalu mengontrol, mengawasi, serta mengarahkan anak-anaknya agar selalu mengamalkan akhlaqul karimah . Allah berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS Attahrim [66]: 6).

Kedua, pada lingkungan masyarakat, yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak ini adalah para ulama, kaum pendidik, serta cendekiawan. Meraka adalah cermin bagi masyarakat. Apa yang mereka lakukan sejatinya akan ditiru dan dipraktikkan oleh masyarakat. Oleh karenanya, para ulama, pendidik, serta kaum cendekiawan harus sadar akan hal tersebut.

Mereka harus dapat memberikan petunjuk pada masyarakatnya. Allah berfirman, ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (QS Assajdah [32]: 24).

Ketiga, pada lingkungan yang lebih luas, yakni negara, yang bertanggung jawab atas pembinaan akhlak ini adalah pemerintah atau umara . Seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Artinya, akhlak mulia sudah selayaknya terpancar dalam diri seorang pemimpin (umara).

Syauqi Beik dalam kata-kata hikmahnya mengungkapkan, ”Sesungguhnya umat dan bangsa itu sangat bergantung pada akhlaknya, jika baik, maka akan kuat bangsa itu, dan jika rusak maka akan hancurlah bangsa itu.”
Sumber: Ali Rif’an
(Rpk)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: