Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Waspadai Kejang Demam pada Bayi

Posted by masjidbaitulmamur pada 20 April 2010

Jangan sepelekan kejang demam yang pertama.

Ani Safriani tiba-tiba mengalami demam. Pada hari kedua bocah berumur enam bulan itu demam tinggi disertai kejang. Orangtua Ani langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Ternyata Ani menderita meningitis.
Kasus seperti itu, menurut dokter spesialis anak RSUP Dr Sardjito Dr dr Elizabeth Herini SpA(K), sering terjadi pada bayi dan kadang berakibat fatal. Meskipun demikian ada yang bisa tertolong tanpa ada gejala sisa dan ada yang bisa tertolong tetapi menimbulkan gejala sisa.
Gejala sisa adalah penyakit sembuh, tetapi setelah itu kejang-kejang tanpa demam misalnya epilepsi. Selain itu, bisa juga si penderita mengalami kelumpuhan kaki atau tangan yang disebut hemiparesis atau tetraparesis. Karena itu, kejang karena infeksi di otak akibat meningitis ini agak berat.
Itulah sebabnya, Herini mengingatkan agar mewaspadai anak yang demam diikuti kejang. ”Harus kita pikirkan apakah kejang demam biasa atau kejang dengan demam yang disebabkan oleh infeksi di otak,” kata dia, ”Istilah medisnya meningitis atau enchepalitis.”
Meningitis, encephalitis
Meningitis adalah radang di selaput otak, sedangkan enchepalitis radang di dalam otak. Kasus meningitis dan enchepalitis ini terjadii di negara-negara berkembang dan negara tropis seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia kasusnya lebih tinggi daripada di negara dengan empat musim.
Herini menjelaskan, kejang demam pada bayi bisa karena kejang demam biasa yang disebabkan oleh infeksi di luar otak. Ini disebut ekstrakranial seperti diare, batuk/pilek, demam berdarah dengue, tifoid, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Sementara kejang demam yang disebabkan infeksi di otak atau intrakranial misalnya kasus meningitis atau enchepalitis.
Sulit membedakan antara ekstrakranial dan intrakranial. ”Gejalanya mirip,” tutur dia. Sehingga orang tua sulit untuk mengetahui. Dokter spesialis anak pun harus mendeteksi selama beberapa hari.
Deteksi klinis dilakukan dengan mengambil cairan di punggung. Tujuannya untuk melihat apakah ada infeksi di otak atau tidak. Pada bayi yang masih amat muda deteksi bisa dengan USG di kepala.
Kejang demam pertama kali
Apabila ada bayi yang mengalami kejang baru pertama kali, kata Herini yang juga sebagai  kepala instalasi kesehatan anak RSUP Dr Sardjito, pada prinsipnya bayi harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan yang paling dekat, Puskesmas, dokter praktik atau rumah sakit. Tujuannya untuk mengatasi kejang bila kejang tersebut berlangsung lama.
Namun, meski kejangnya sudah bisa diatasi di rumah bayi tetap harus dibawa ke tempat pelayanan kesehatan, apalagi baru kejang demam pertama. Mengapa? Ini untuk mendeteksi apakah yang terjadi hanyalah kejang demam biasa (ekstrakranial) atau karena infeksi di otak (intrakranial).
Herini menjelaskan, kejang demam intrakranial yang sudah bisa diatasi sebelum ke dokter mengakibatkan kesadaran anak mengalami penurunan. Bayi mudah mengantuk dan kasus berat bisa sampai koma. ”Namun, bila penyebabnya kejang demam ekstrakranial setelah kejangnya bisa diatasi, anaknya bisa bermain ceria,” tambahnya.
Lagi-lagi Herini mengingatkan orang tua agar waspada. Pada kejang demam yang intrakranial pada awalnya batuk pilek atau diare seperti pada ekstrakranial. ”Tetapi bakterinya mungkin tingkat keganasannya (virulensinya) tinggi  atau daya tahan tubuh anak kurang bagus sehingga bakterinya bisa menembus otak,” kata dia.
Kasus bayi kejang demam intrakranial di RSUP Dr Sardjito rata-rata per bulan sekitar 2-3 bayi. Bila diperluas hingga anak usia tiga tahun rata-rata sekitar lima orang. Angka kematiannya sekitar 60 persen.
Tingginya angka kematian kejang demam intrakranial ini di samping karena terlambat membawa ke rumah sakit, juga karena tingkat keganasan bakteri yang tinggi. Sementara itu kasus kejang demam ekstrakranial yang dirawat di RSUP Dr Sardjito  sekitar dua sampai tiga kali lipat kejang demam intrakranial. ed:nina

Mencegah Kejang Demam

Kejang demam yang karena infeksi di otak bisa dengan imunisasi. Masalahnya, menurut Dr dr Elizabeth Herini SpA(K), biaya imunisasi cukup mahal dan belum tersedia di Puskesmas.
Seperti radang otak yang disebabkan bakteri Haemophilus Influenzae B atau bakteri Streptococcus pneumonia. Pemberian imunisasi  bisa sejak bayi berusia dua bulan sebanyak tiga kali dengan jarak antara satu hingga dua bulan. Namun, Herini mengakui, harganya cukup mahal.
Biaya satu kali imunisasi untuk Haemophilus Influenzae B sekitar Rp 250 ribu sedangkan untuk Streptococcus pneumoniae sekitar Rp 800 ribu. Para dokter menyarankan dilakukan keduanya. Sebab, satu imunisasi tak bisa melindungi bayi untuk keduanya sekaligus. ”Secara umum, tingkat kekebalan imunisasi tersebut di atas 60 persen,” katanya.
Pertolongan pertama
Bagi orang tua yang mempunyai anak balita, sebaiknya di rumah selalu tersedia obat penurun panas seperti parasetamol. Namun, jika terpaksa di rumah tidak ada obat penurun panas, berilah bayi/anak yang demam kompres hangat. Kompres hangat ini tidak hanya diberikan di dahi, melainkan di tempat lain yang dilewati pembuluh darah besar seperti di ketiak, di selangkangan. Dulu pada umumnya orang biasa memberi kompres air dingin, tetapi dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kompres air hangat itu lebih bermanfaat. ”Kalau anak panas badan dan diberi kompres dingin bisa mengakibatkan anak menggigil,” kata Herini.
Kalau pada anak terjadi kejang bukan yang pertama kali, biasanya dokter yang menangani pada waktu si anak terjadi kejang pertama kali akan memberikan obat penghenti kejang untuk persediaan di rumah. Sebab, obat ini tidak bisa dibeli secara bebas. Obat itu adalah diazepam yang dimasukkan lewat dubur. Obat ini mencegah kejang yang berkepanjangan sebelum ia ditangani petugas kesehatan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua apabila anak mengalami kejang. ”Jangan memasukkan tangan ke mulut bayi/anak,” kata Herini.
Bila orang tua khawatir anak yang mengalami kejang akan menggigit lidah di anak, lebih baik memasukkan sendok yang sudah dibungkus kain ke dalam mulut bayi/anak yang kejang. Namun, sebetulnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena kasus anak kejang yang sampai menggigit lidahnya itu jarang sekali. Yang terpenting tetaplah mengompres anak dan memberi obat penurun panas.
Bila suhu badan si anak menurun, secara otomatis kejang akan reda sehingga tubuhnya tidak terlalu. Namun, Herini mengingatkan, ”Obat penurun panas itu tidak akan mengobati kejang.”
Anak yang mengalami kejang demam intrakranial dan menimbulkan gejala sisa kejang tanpa demam, biasanya akan diberi pengobatan rutin selama tiga sampai enam bulan. Biasanya pengobatan tersebut akan dievaluasi dengan EEG (electroencephalography). ”Kalau tidak ada kejang lagi dan EEG-nya bagus, maka pengobatan akan dihentikan setelah tiga atau enam bulan,” katanya.

Sumber: Koran Republika

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: