Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Toleransi pada Anak.

Posted by masjidbaitulmamur pada 8 Februari 2010

Ajarkan toleransi sejak dini 

KITA hidup dalam negara yang penuh keragaman, baik dari suku, agama, maupun budaya. Untuk hidup damai dan berdampingan, tentu dibutuhkan toleransi satu sama lain.
Rasa toleransi ini perlu ditanamkan pada anak-anak Anda sedini mungkin. Lebih cepat diajarkan bertoleransi lebih baik bagi perkembangan jiwa anak-anak. Saat anak mulai bergaul dengan teman-temannya, dia akan mulai merasakan perbedaan. Jika tidak diajarkan bertoleransi, nantinya dia bisa berkonflik dengan teman-temannya karena perbedaan.

Toleransi adalah perilaku terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada dengan sesama. Biasanya orang bertoleransi terhadap perbedaan kebudayaan dan agama. Namun, konsep toleransi ini juga bisa diaplikasikan untuk perbedaan jenis kelamin, anakanak dengan gangguan fisik maupun intelektual dan perbedaan lainnya.

Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap.

Anak dapat diperkenalkan konsep tentang toleransi sejak dini, yaitu pada sekitar usia empat tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, bukan berarti anak tidak akan sama sekali menyerap berbagai contoh atau mengetahui nilainilai toleransi tersebut. Sejak usia satu tahun, alam bawah sadar anak dapat menyerap contoh yang dilakukan oleh orangtua dan orang-orang di sekelilingnya.

Namun pada usia dua tahun, sebagian besar anak masih cenderung memiliki sifat egosentris. Artinya, anak menganggap bahwa dirinya adalah segalanya; yang membuat mereka sulit berbagi atau belum bersedia bermain dengan orang lain.

Di sinilah peran penting orangtua dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya, terutama menstimulasi anak agar dia siap menerima keberadaan orang lain. Secara bersamaan, juga menanamkan karakter toleran terhadap orang lain yang berbeda dari dirinya.

Banyak orangtua yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki teman-teman yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Mengajari toleransi pada anak-anak sebaiknya dimulai dari sikap orangtua yang menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri, tanpa sikap yang dibuat-buat.

Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen, anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama.

Pasalnya, anak-anak biasanya belajar dari apa yang dilihat dan didengar dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Perilaku orangtua yang menghargai sesama akan dicontoh anaknya, karena orangtua yang sering memperlihatkan sikap toleransinya setiap hari akan memberikan pengaruh yang besar terhadap anak sehingga anak akan lebih menghargai tentang perbedaan juga.

Anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda, sehingga pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan anak-anak.

Apalagi, kelak jarak antarnegara dan benua sudah semakin dekat berkat kemajuan teknologi. Berbicara bersama mengenai toleransi dan memberi contoh perilaku akan membantu anak menghargai arti dari perbedaan. Berilah kesempatan kepada anak untuk bermain dan bekerja sama dengan teman-temannya yang lain.

Psikolog anak Gordon Allport dalam buku klasiknya mengatakan bahwa anak-anak yang diamatinya lebih cenderung tumbuh toleran, jika mereka tinggal di rumah yang mendukung dan penuh kasih. “Mereka merasa disambut, diterima, dicintai, tidak peduli apa yang mereka lakukan,” terangnya.

Dalam lingkungan seperti itu, lanjut Allport, pandangan yang berbeda tentang segala hal akan diterima, ganjaran yang didapat tidak keras atau berubah-ubah, dan anak-anak ini umumnya memikirkan orang-orang dari segi positif dan membawa rasa itikad baik dan bahkan kasih sayang.

Seperti peraturan lain, toleransi harus diajarkan dengan cara yang bijak. Meskipun anak belum bisa bicara, mereka biasanya melihat dan meniru perilaku orangtuanya. Anak-anak, usia berapa pun, akan mengembangkan kemampuan mereka dengan mencontoh perilaku dan penghargaan dari orang-orang yang dekat dengan mereka.

Ada empat cara bagaimana mengajarkan toleransi pada buah hati. Pertama, perkenalkan keragaman. Anda bisa mulai dengan memberi pengertian bahwa ada beragam suku, agama, dan budaya. Beri tahukan pada buah hati meskipun orang lain memiliki agama atau suku yang berbeda, manusia sebenarnya sama dan tidak boleh dibeda-bedakan. Memperkenalkan keragaman sedini mungkin nantinya bisa memupuk jiwa toleransi buah hati agar lebih memandang perbedaan yang ada secara lebih bijak.

Kedua, perbedaan bukan untuk menimbulkan kebencian. Ajarkan pada buah hati bahwa perbedaan yang ada, jangan disikapi dengan kebencian, karena kebencian akan membuat sedih dan menyakiti hati orang lain. Cobalah ajak buah hati untuk berandai-andai jika dia dibenci karena perbedaan, tentu akan merasa sedih.
Dengan begitu, dia lebih merasa empati dan bertoleransi dengan apa yang dirasakan orang lain.

Ketiga, beri contoh. Jangan hanya memberi tahunya lewat kata-kata, tetapi juga contoh nyata. Jika bertemu seseorang menggunakan simbol agama yang cukup ekstrem atau seseorang yang memiliki warna kulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan, apalagi mengatakan sesuatu bernada kebencian dan ledekan. Ingatlah bahwa Anda adalah contoh bagi buah hati. Bersikaplah seperti biasa dan jika buah hati bertanya berikan penjelasan yang bijak.

Keempat, bertoleransi untuk kedamaian. Beri tahukan pada buah hati bahwa sikap toleransi itu sangat dibutuhkan. Jika tidak ada sikap toleransi, banyak orang yang akan bermusuhan dan saling membenci. Katakan juga padanya jika hal itu terjadi, dia tidak akan nyaman saat bersekolah ataupun bermain.

Psikolog anak dari Karuna Center for Peace Building di Leverett, Massachusetts, Amerika Serikat, Paula Green PhD mengemukakan, sikap toleransi dan intoleransi dapat dipelajari. Jika orangtua takut akan perbedaan, anak-anak akan mengikutinya.
Pengajaran toleransi adalah tanggung jawab orangtua, dan hal itu perlu dilakukan secara serius.

“Sebagai pendidik dan pencetak generasi berikutnya, orangtua mempunyai kewajiban untuk berdiri dan berada di garis depan dalam melawan kefanatikan, rasisme, dan prasangka dalam segala bentuknya,” tegasnya.
(Koran SI/Koran SI/tty)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: