Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Menilai Hasil atau Proses?

Posted by masjidbaitulmamur pada 20 Mei 2010

Dalam suatu kesempatan belajar bersama, instruktur saya mengatakan bahwa kebanyakan orang hanya melihat kesuksesan seseorang pada saat orang tersebut sudah berhasil meraih sesuatu yang orang lain belum dapat mencapainya. Dikatakan bahwa orang cenderung tidak melihat bagaimana proses yang dilalui berupa perjuangan dari orang- orang yang sukses.

Beliau juga mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad Saw. menduduki posisi terhormat di sisi Allah Swt. berupa diangkat menjadi nabi, baru pada saat beliau Saw. menginjak usia 40 tahun, dimana pada tahun tahun sebelumnya yang mulia Nabi Muhammad Saw. digembleng Allah Swt. secara terus menerus berupa ujian-ujian yang diberikan Allah Swt. untuk memantapkan keimanan dan keteguhan iman nabi, dalam rangka mempersiapkan tugas mulia yang akan diembannya pada saatnya nanti.

Mulai ujian berupa ditinggal wafat ayahanda tercinta, yaitu Abdullah semasa nabi saw masih dalam kandungan ibunda Aminah. Kemudian ditinggal wafat oleh ibunda Aminah ketika nabi saw berusia sekitar 6 bulan sehingga beliau Saw. harus disusukan oleh ibunda Halimatussa’diyah, yang pada akhirnya pengasuhan jatuh pada kakenda, lalu terakhir pengasuhan jatuh pada pamanda karena sang kakek pun meninggal dunia.

Dalam kehidupan sehari- hari pun, tanpa kita sadari kita sering mengatakan kepada orang yang dinilai sudah maju, “Enaknya, bla bla bla” dan seterusnya. Sering juga kita mengatakan kepada orang yang sudah hafal Al-Quran sekian juz, “Enaknya sudah banyak juz yang dihafal ….” dan seterusnya dan seterusnya.

Saya merenungkan, kenapa kita tidak boleh hanya melihat hasil yang dicapai oleh orang lain dari sisi hasil akhir, bukan dari sisi perjuangannya. Saya berfikir, bahwa jika kita hanya terpukau oleh kemajuan seseorang, maka kita akan merasa malas, merasa useless. Padahal kita bisa mencapai apa yang orang lain sudah capai yang kita nilai berhasil. Tidak percaya? Percayalah, karena bagi Allah yang Mahakuasa, tidak ada yang mustahil, dengan syarat ada wasilah, ada perantara, yaitu berupa usaha! Terserah Allah Swt. bagaimana cara Dia menolong kita.

Jika kita hanya melihat hasil yang sudah dicapai orang lain, maka bukannya kita mulai mencontoh jejak langkah orang orang yang kita nilai berhasil, akan tetapi kita malah memuji orang- orang sukses tanpa kita sendiri melakukan aksi nyata.

Saya jadi teringat juga akan tugas hafalan yang tidak maju- maju. Padahal sekiranya saya merealisasikan teorinya Ustaz Yusuf Mansur one day one ayat saja, maka enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat Al-Quran dapat saya hafal dalam waktu 19 tahun! Tidak masalah, yang penting ada langkah action. Mahasuci Allah, lagi-lagi ini masalah ikhtiar yang tidak optimal.

Saya kembali merenungkan, sebuah proses yang panjang akan terasa berat jika kita hanya melihat hasil akhir. Bagi kita, ibu- ibu, coba kita perhatikan seorang ibu yang tengah hamil sembilan bulan! Dengan kondisi perut yang besar, kita akan melihatnya seperti begah dan terasa tidak nyaman. Sampai pernah mendengar seorang ustaz berceramah yang menyinggung masa kehamilan seorang wanita (sambil bercanda) “Untuk dapat merasakan betapa payahnya seorang ibu mengandung, coba bapak-bapak tempelkan buah kelapa diperut, lalu diikat, dan jangan dibuka buka selama sembilan bulan! Gimana sanggup?”

Memang jika itu konteksnya, pastilah berat, tapi yang jelas tidak persis seperti itu, karena kita menjalani kehamilan dengan ikhlas bukan? Kita tidak menghitung berlalunya hari demi hari, tapi kita nikmati masa kehamilan sesuai fitrah kita sebagai seorang wanita. Tanpa saya sadari, saya merasa trenyuh sekaligus takjub oleh karyawati di bagian produksi (katakanlah pekerja langsung sebagai operator) yang bekerja terus sambil berdiri nonstop selama 8 jam! sementara saya sendiri dalam kondisi hamil, dan bekerja pula! Tapi saya sedikit beruntung daripada mereka.

Yang ingin saya katakan adalah, ketika kita menjalani suatu proses, kita tidak akan merasa kelelahan walau orang menganggapnya berat, karena kita tidak merasakan itu sebuah beban.

Saya jadi teringat nama nama besar yang pernah menghiasi sejarah, katakanlah Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau berjaya dalam mengembalikan Al-Quds di Palestina ke pangkuan kaum Muslimin setelah sekian lama dikuasi oleh pasukan Salib. Sejarah mencatat bahwa kemenangan pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi telah melewati perjalanan panjang. Dan nama harum Shalahuddin itu sendiri melalui liku-liku politik yang sangat rumit.

Diatas itu semua, yang pasti satu hal yang saya pelajari; untuk mencapai sebuah kesuksesan, apapun itu, target- target pribadi, ataupun target- target dakwah, harus diikuti dengan langkah-langkah yang istiqomah dan istimror. Bukankah Allah Swt. menyukai amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara terus menerus? Dan tidak kalah pentingnya, setelah sekian usaha kita lakukan, kita serahkan hasilnya kepada Allah Swt. yang mempunyai urusan, sambil memohon pertolongan, karena tiadalah yang dapat menolong kita selain Allah Swt. . “Innalloha yuhibbul mutawakkilin …”

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya,” (QS:Ali Imron ayat 159).

Untuk menutup pembicaraan kita seputar ikhtiar dan usaha, dan untuk mengingatkan bahwa ikhtiar dan usaha yang kita lakukan tidak akan lepas dari faktor pertolongan Allah Swt., coba kita ingat kembali sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, saya kutip dari dalam buku Mukasyafatul Qulub, yang diterjemahkan menjadi “Dibalik Ketajaman Mata Hati” terbitan Pustaka Amani, karya Imam Al-Ghozali dalam kupasannya tentang keutamaan tawakkal, sebagai berikut;

“Aku melihat beberapa umat dalam mausim (tempat berkumpulnya manusia). Sungguh aku melihat umatku memenuhi ngarai dan gunung. Maka aku membanggakan jumlah mereka yang banyak akan keadaannya.” Lalu dikatakan kepadaku, “Telah ridakah kamu?” Aku berkata, “Ya”.

Dikatakan, “Bersama mereka itu terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga dengan tanpa dihisab.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka itu, Ya Rasulullah?”, Beliau bersabda, “Yitu orang-orang yang tidak memakai pengobatan dengan membakar kulit dengan besi (dan tidak menganggap penyembuhan terjadi karena itu), jampi, dan terhadap Tuhannya mereka bertawakal.” Ukasyah berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku diantara mereka.” Lalu Rasulullah Saw.

Bersabda, “Ya Allah, jadikanlah dia diantara mereka”. Lalu yang lain berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku diantara mereka”. Beliau bersabda, “Telah mendahuluimu, Ukasyah.” Nabi Muhammad Saw. juga bersabda, “Seandainya kamu berserah diri kepada Allah dengan sebetul-betul berserah diri kepada-Nya, tentu Dia berangkat pagi dalam keadaan kempis perutnya dan pulang pada sore hari dalam keadaan penuh perutnya.”

Semoga bermanfaat,

Maha Suci Allah, semoga Engkau tidak menjadikan hamba sebagai orang yang hanya berkata- kata, tanpa beramal.
Sumber: eramuslim.com

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: