Baitul Ma'mur's blog

Menapaki Hidup Sejahtera Dunia Akhirat.

Rasul SAW Memerintahkan Perbuatan Sesuai Kemampuan

Posted by masjidbaitulmamur pada 5 April 2010

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ اْلَأعْمَالِ بِمَا يُطِيْقُوْنَ قَالُوْا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ اْلغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

( صحيح البخاري )

” Bahwa Rasulullah Saw jika memerintahkan mereka ( para sahabat dan ummat beliau Saw ) maka beliau memerintahkan perbuatan-perbuatan menurut kemampuan mereka, maka para sahabat berkata: ” Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang ( mestinya kami lebih banyak ibadah darimu ), maka murkalah Rasul Saw hingga terlihat jelas di wajah beliau Saw, seraya bersabda: ” Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku”. ( Shahih Al Bukhari )

Air mata tangisan rindu dari pecinta Rasulullah tiada akan pernah berhenti sepanjang waktu dan zaman, ingin berjumpa dengan sang nabi Saw, mereka ingin melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling baik, disana sini dimusuhi, difitnah, dipersulit, dicaci dan dimaki, sudah banyak wajah-wajah yang bosan melihat dunia dan ingin segera melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling menyambut para tamunya, yang dikatakan:

لَوْ جَاءَ عَبْدٌ مُلَطَّخٌ بِالذُّنُوْبِ لَقَالَ لَهُ أَهْلًا وَمَرْحَبًا

( Jika datang kepada beliau seorang hamba yang berlumur dosa beliau akan menyambut hangat dengan mengucapakan ” ahlan wa marhabaa” ), demikian budi pekerti Muhammad Rasulullah Saw. Entah apalagi artinya siang dan malam, matahari dan bulan, kaya dan miskin, menjadi pejabat ataupun menjadi rakyat, menjadi pengusaha atau pedagang dan lainnya dibandingkan dengan indahnya duduk bersanding dan berhadapan langsung wajah dengan wajah, mata dengan mata, saling pandang dengan sayyidina Muhammad Saw, saling senyum dengan sayyidina Muhammad dan memeluk tubuh nabi Muhammad Saw dan mengadukan keluh kesah kehidupannya di dunia dari kesulitan yang dilewati, musibah yang dilewati, mengadukannya kepada manusia yang lebih lebih lembut dan lebih berkasih sayang dari ibunda kita, sayyidina Muhammad Saw.

Maka pujilah Allah Swt sebanyak-banyaknya yang dengan itu kehidupan kita terpuji, dan Allah Swt menyukai pujian dan tidak menyukai dosa-dosa dan kehinaan. Rasulullah Saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari :

لَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلِذَلِكَ حَرَّمَ اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحَ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

( صحيح البخاري )

” Tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia mengharamkan segala yang keji, dan tidak ada yang lebih suka dipuji selain dari Allah Swt, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri”. ( Shahih Al Bukhari )

Maka beruntunglah orang-orang yang memuji Allah Swt, dan Allah Swt membenci dosa-dosa, oleh sebab itu Allah mengharamkan perbuatan dosa. Mengapa Allah Swt suka dipuji?, karena Allah tau bahwa pujian itu datang dari cinta. Jika seorang hamba mencintai sesuatu maka pastilah ia banyak memujinya, jika seorang hamba memuji Allah, maka ia pun dicintai Allah. Seseorang yang melaksanakan shalat maka ia telah banyak memuji Allah, dan ia termasuk orang yang banyak memuji Allah dan ia juga termasuk orang yang dicintai Allah jika ia mendalami makna ucapan-ucapan dalam shalatnya. Oleh sebab itu, sebagian para shalihin sebagaimana dijelaskan oleh para guru kita bahwa mereka sangat asyik memuji Allah didalam shalatnya dan disaat mereka I’tidal mereka mengucapkan :

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Wahai Rabb kami, bagiMu segala puji, aku memujiMu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu”

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa ucapan ini adalah ucapan salah seorang sahabat, ketika ia sedang bermakmum kepada Rasulullah Saw bersama sahabat lainnya. Ketika Rasulullah mengucapkan ” Sami’allahu liman hamidah ” untuk I’tidal, maka sahabat itu mengucapkan:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ … إلخ

Tanpa ada yang mengajarinya, tetapi muncul dari hatinya maka Rasulullah selesai shalat bertanya: siapa tadi yang mengucapkan : ربنا لك الحمد حمدا كثيرا… إلخ?, salah seorang sahabat mengacungkan tangan dan berkata: ” aku wahai Rasulullah “, maka Rasulullah berkata: ” Jibril tadi mengatakan kepadaku bahwa puluhan malaikat berebutan mencatat pujianmu itu, untuk disampaikan kepada Allah Swt”.

Ketika kita menikmati pujian kepada Allah dan sedikit bersabar atas diri kita untuk memuji Allah Swt, maka Allah akan memberi kenikmatan dan kelezatannya, jika kita sudah merasakan lezat memuji Allah maka tentunya kita akan selalu asyik memuji Allah Swt, yang dengan itu Allah Swt akan membuat kehidupan kita semakin terpuji dunia dan akhirah, dan sang penuntun segala keterpujian dari tuntunan yang terpuji, hamba Allah yang paling terpuji, Muhammad Saw. Namanya saja Muhammad yang berarti yang banyak dipuji atau yang banyak memuji. Nabi kita Muhammad memang orang yang paling banyak dipuji karena ia dipuji oleh Allah Swt dan oleh seluruh hamba Allah yang beriman.

Oleh sebab itu Allah Swt menyukai pujian, dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Kalau kalimat ini kita paparkan sedikit, ada orang-orang kaya yang suka dipuji dan jika ia dipuji maka ia akan memberi hadiah kepada orang-orang yang memujinya, dan tentunya Allah Swt lebih dari itu, kalau Allah dipuji maka Allah akan memberi yang lebih untuknya. Allah tidak butuh pujian, namun Allah Maha Tau bahwa dengan pujian itu maka hamba-Nya mencintai-Nya. Sebagian Ahli ma’rifah billah mewarisi dari apa-apa yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Rasulullah juga suka dipuji, kenapa? karena memuji Rasulullah Saw akan membuat orang yang mendengarnya bertambah cinta kepada Rasul Saw, beliau bukan suka dipuji untuk pribadinya tetapi karena orang-orang yang banyak memuji itu bisa bertambah cintanya kepada Rasulullah Saw, dan mencintai Rasulullah Saw adalah kesempurnaan iman. Rasulullah tidak suka dipuji, karena sudah terpuji di hadapan Allah Swt namun dengan banyak memuji Rasulullah Saw maka seseorang akan sampai kepada kesempurnaan iman, sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

” Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia”

Dan dalam riwayat lain:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

” Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian daripada keluarga, harta dan segenap manusia”

Tentunya iman mempunyai derajat, terkadang kita berangan-angan bahwa sungguh berat jika kita mencintai Rasul lebih dari keluarga atau harta kita sepertinya adalah derajat yang sangat susah sekali dicapai, tidak juga!. Kita semua disini sudah mencapai hal itu, kita hadir disini karena cinta kepada Rasul Saw dan sekarang kita meninggalkan keluarga dan harta kita, rumah kita tinggalkan, dan kita duduk disini setelah itu kita kembali kepada keluarga dan harta kita, kita tinggalkan untuk hadir disini, padahal kita tidak melihat sang Nabi, bagaimana kalau seandainya kita melihat sang Nabi, barangkali sehari sebelumnya, atau seminggu sebelumnya atau sebulan atau mungkin setahun sebelumnya masjid ini sudah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat wajah Rasulullah Saw.

Allah Swt sangat mencintai kita, dan tidak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah Swt. Mungkin kita kaget ketika mendengar Allah pencemburu, maksudnya apa?, cemburu itu datangnya dari cinta, cemburu itu adalah ingin kekasihnya selalu dekat dengannya dan jangan jauh darinya, jika saja ada gerakan atau ucapan yang membuat kekasihnya jauh, maka ia akan marah itulah sifat cemburu. Hadirin hadirat, ternyata Allah itu cemburu kepada hamba-hamba-Nya, oleh sebab itulah Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat, kenapa Allah mengharamkan perbuatan dosa?, karena dengan perbuatan dosa hamba-Nya akan jauh dari Allah dan Allah tidak mau hamba-Nya jauh dari-Nya, Allah ingin kita dekat, Allah tidak ingin kita berbuat buruk hingga menjauh dari Allah, Allah ingin kita berada dalam kasih-Nya, ketika berbuat hal-hal yang tidak disukai Allah maka ia akan terkena dosa, kenapa? karena Allah ingin hamba-Nya jauh dari dosa karena cinta-Nya kepada kita. Kita lihat, jika seandainya Allah Swt tidak cinta kepada kita, maka sekali seorang hamba berbuat dosa dan dicabut nyawanya sehingga wafat dalam su’ul khatimah sekali berbuat dosa. Tetapi Allah cinta kepada hamba-Nya, sekali ia berbuat dosa maka ditunggu barangkali beristighfar, dihadirkan di majelis dzikir dan majelis ta’lim maka ia akan mendapat pengampunan dan mendekat lagi kapada Allah, sungguh indahnya Allah. Dan ketika shalat lima waktu maka terus dihapus dosa-dosanya, ketika ia berwudhu maka ia mendapat penghapusan dosa, memuji Allah ia mendapat penghapusan dosa, selesai shalat ia membaca subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x maka ia mendapatkan lagi penghapusan dosa. Di hari Jum’at, antara Jum’at satu dengan Jum’at lainnya mendapat penghapusan dosa, ketika tiba bulan Ramadhan mendapat penghapusan dosa lagi, ketika puasa Arafah mendapat pengampunan lagi, ketika puasa ‘Asyura mendapat pengampunan lagi, terus pengampunan mengejar kita. Seorang hamba yang malas beribadah, tapi ia banyak berbuat baik kepada saudaranya maka diberi pertolongan oleh Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika seorang hamba sudah kalah seluruh pahalanya oleh dosa-dosanya, lalu ia berkata: ” dulu aku banyak membantu orang susah, jika seseorang meminjam kepadaku dan ia adalah orang yang susah maka tidak aku tagih, jika seseorang berbelanja kepadaku dan dia orang yang tidak punya maka aku murahkan lebih dari harga yang semestinya, maka beri aku keringanan”, maka Allah Swt menjawab: ” Aku lebih berhak daripada engkau untuk berbuat hal itu, biarakan hamba-Ku masuk ke surga-Ku “. Demikian indahnya Allah Swt.

Alangkah besarnya keinginan Allah agar kita dekat dengan-Nya, alangkah baik dan cintanya Allah kepada kita, namun betapa kita tidak mau menjawab cinta Allah Swt kepada kita. Kapan kita mau menjawab cinta itu, kapan mau kita jawab kasih sayang itu, maka bersujud dan banyak berdzikirlah kepada Allah, banyak berdoa dan memohon pengampunan kepada Allah Swt, memohonlah ridha dan restu atas nafas-nafas yang lewat daripada rindu kepada Allah Swt. Nafas yang tidak sempat rindu kepada-Mu wahai Rabbi maafkanlah, semestinya setiap nafasku ini dipenuhi rindu kepada-Mu dari kebaikan dan keindahan-Mu.

Sampailah kita pada hadits mulia, dimana Rasul Saw jika memerintahkan sesuatu perintah kepada sahabat atau ummatnya, pastilah memerintah sesuatu yang mereka mampu. Rasul tidak mau memerintahkan lebih dari kemampuan mereka. Maka suatu ketika beberapa sahabat berkata kepada Rasul Saw:

إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

” Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang”

Maksudnya, kalau engkau ( Rasulullah) sudah dijamin pengampunan dosa dari Allah, sedangkan kami tidak demikian maka kami harus lebih banyak beribadah daripada engkau. Maka wajah Rasulullah berubah menjadi marah dan berkata:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

” Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku”

Maksudnya adalah seseorang atau ummat yang telah dipilihkan oleh sang nabi suatu ibadah maka jangan berusaha untuk mencari pendapat yang lebih lagi, sebagaimana dijelaskan oleh sayyidina Jabir bin Abdillah Ra bahwa Rasulullah Saw ingin mempermudah ummatnya, maka jangan mencari yang sulit-sulit , Rasul tidak menyukai kesulitan pada ummatnya, banyak sekali riwayat yang muncul dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu, diantaranya: diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika sayyidina Abdullah bin Umar berpuasa setiap hari, dan setiap malam ia menghatamkan Al qur’an dalam usia muda, maka dipanggil oleh Rasul berkata: ” engkaukah yang puasa setiap hari, dan setiap malam melakukan qiyamullail dan menghatamkan alqur’an “, maka Abdullah bin Umar berkata: ” betul wahai Rasul”, maka Rasul berkata: ” Jangan lakukan hal itu, cukup engkau puasa tiga hari sebulan karena hal itu adalah puasa seumur hidup”, karena setiap kali puasa pahalanya sepuluh kali lipat, jadi puasa sehari sama dengan puasa sepuluh hari, puasa tiga hari sebulan maka seperti puasa 30 hari ( sebulan ), maksudnya Rasul adalah ” jika kamu ingin berpuasa setiap hari cukuplah berpuasa 3 hari setiap bulan, dan pahalanya sama dengan puasa setahun penuh karena 3 hari puasa pahalanya 30 hari, alangkah indahnya tuntunan sayyidina Muhammad Saw. Maka Abdullah bin Umar berkata: ” wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu”, maka Rasul berkata: ” kalau begitu 3 hari dalam seminggu “, Abdullah bin Umar berkata lagi: ” wahai Rasulullah aku mampu lebih dari itu”, demikian terus Abdullah bin Umar meminta lebih kepada Rasul, akhirnya Rasul berkata: ” sehari puasa dan sehari tidak puasa, itu adalah puasa nabi Daud dan tidak ada lagi yang lebih dari itu”. Maka Rasulullah Saw tidak menyetujui sayyidina Abdullah bin Umar untuk berpuasa lebih dari puasanya nabi Daud As, kenapa? karena beliau masih muda, kalau sudah lanjut usia beda lagi, boleh-boleh saja jika ia berpuasa setiap hari. Jika masih muda terbukti dari ucapan sayyidina Abdillah bin Umar, didalam riwayat ia berkata: “sungguh aku menyesal karena sudah dinasihati sang Rasul dan diberi keringanan tetapi aku tetap meminta tambah, hingga aku merasa belum lanjut usiaku aku sudah merasa lemah sekali tubuhku, karena sudah terlalu banyak berpuasa di siang harinya ketika masa mudanya dan banyak qiyamullail di malam harinya, alangkah beruntungnya jika aku terima saran dan keringanan-keringanan dari sang nabi Muhammad Saw”. Maksudnya, untuk pemuda boleh banyak beribadah tetapi jangan terlalu berlebihan karena jika berlebihan maka akan membuat ia lemah di masa tuanya, dan menjadi lemah untuk beribadah di masa tua padahal itu adalah waktu-waktu yang semakin dekat menjelang wafat. Namun jangan salah pengertian, sebagian ada yang berkata: ” tidak usah shalat dulu kan masih muda”, hati-hati dengan hal-hal yang fardhu, hal-hal yang fardhu berbeda dengan hal yang sunnah, hal yang sunnah tetap kita amalkan namun jangan yang berat-berat. Puasa Senin-Kamis mungkin terlalu berat, maka puasa 3 hari dalam sebulan itu sudah termasuk sunnah nabi Muhammad Saw, jangan ditambah lebih dari itu lagi sampai puasa setiap hari terus tanpa dibatalkan, maka hal itu akan melemahkan kita. Kalau seandainya bangun di malam hari, maka sisakan 1 atau 2 jam untuk beristirahat, demikian indahnya tuntunan sang nabi Muhammad Saw.

Perkataan Rasulullah Saw:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

Maksudnya adalah jika telah diberi keringanan oleh Rasul Saw maka jangan mencari yang sulit, karena Rasul Saw selalu memilihkan yang paling ringan untuk kita. Hadits ini dipakai oleh sebagaian saudara kita untuk tidak menambah-nambahi ibadah, dari dahulu tidak diajarkan maulid kok sekarang diadakan maulid, Rasul tidak mengajarkan maulid dan lain sebagainya. Maulid tidak menyusahkan kita, maulid bahkan membuat kita gembira, berbeda jika kita menyusahkan diri kita misalnya ketika tiba maulid nabi kita berpuasa 1000 hari, atau kita berdiri saja 24 jam tidak bergerak, berdiri saja karena gembira dengan kelahiran sang nabi, dari subuh sampai maghrib berdiri, tentunya hal itu menyusahkan dirinya, maka sesuai dengan hadits ini. Tetapi jika mengadakan acara silaturrahmi besar, bangkitkan lagi semangat muslimin , menjamu muslimin, bersilaturrahmi, bershalawat dan berdzikir bersama, maka hal seperti itu adalah hal yang mulia, dan hal itu tidak memberatkan muslimin. Kecuali jika seandainya mau mengadakan maulid maka semua masyarakat harus menjual rumahnya untuk perayaan maulid, tentunya tidak. Untuk bangun toilet saja 10 juta , kalau untuk maulid 10 ribu saja dikatakan mubadzzir, padahal untuk syiar Allah, tetapi jika untuk membuat toilet hingga puluhan juta dianggap tidak mubadzzir wal’iyadzubillah.

Rasulullah Saw adalah pembawa keluhuran, tadi kita dengar bagaimana Abdullah bin Umar mengatakan: ” alangkah indahnya jika aku terima keringanan-keringanan dari sang nabi”. Rasulullah Saw jika dipilihkan antara dua hal maka beliau akan memilih sesuatu yang lebih ringan untuk diperbuat oleh ummatnya. Rasulullah Saw bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمْرُتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Kalau seandainya tidak akan menyusahkan umatku akan aku perintah mereka untuk bersiwak disetiap akan shalat “.

Subhanallah, padahal shalat memakai siwak pahalanya 70 kali lebih besar, sebagaimana sabada Rasulullah Saw:

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ

“Dua rakaat shalat dengan bersiwak itu terlebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak”

Rasul ingin ummatnya sampai ke derajat itu, hingga shalatnya dilipatkan 70 kali lebih besar . Tetapi beliau tidak mau memaksakan ummatnya, akhirnya ummatnya repot kesana kemari mencari siwak, jika siwak diwajibkan dalam setiap shalat, dan tiba-tiba ketika akan melaksanakan shalat dan lupa dimana siwaknya maka ia akan mencarinya hingga ketemu, orang lain sudah takbiratul ihram dan hampir selesai shalat, ia pun masih sibuk mencari siwak yang akhirnya harus pergi untuk membeli siwak, Rasul Saw tidak ingin hal ini terjadi pada ummatnya, yang memiliki siwak pergunakanlah dan yang tidak memilikinya sungguh tidak ada kewajibannya, alangkah indahnya sayyidina Muhammad Saw.

Dikutip dari: majlisrasulullah.org

2 Tanggapan to “Rasul SAW Memerintahkan Perbuatan Sesuai Kemampuan”

  1. Fitri said

    Salam kenal mas, artikel yang bagus.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: